DAY 11: Talk about My Siblings

#30DaysWritingChallenge

I may be good in words, but not to speak and tell my feelings directly–especially to all of my beloved people. Aku termasuk orang yang lebih senang menunjukan rasa melalui tindakan, tulisan, namun tidak secara lisan dan langsung. 

Salah satu pemberian Tuhan yang berharga di hidupku adalah hadirnya adikku.

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya pada tulisanku tentang keluarga, hubunganku dengan orang tuaku tidaklah begitu dekat dibandingkan dengan kakek nenek dan tante-tanteku. Tapi satu hal yang pasti, aku tetap menyayangi mereka apapun adanya.

Tadinya, aku terlahir sebagai anak tunggal. Setidaknya itu yang terjadi sampai aku SMA–sebelum akhirnya aku tiba-tiba menjadi seorang kakak. Meskipun aku dekat dengan anak-anak dari tanteku (sepupu-sepupu yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri), namun tentu beda rasanya ketika mendapat kabar kalau mamaku hamil yang artinya aku akan punya adik kandung. Well yea.. Life is a mystery right? You woke up in the morning and suddenly you had a sibling! For real.

I ask nothing to God.. But grant a blessing to my brother with abundance of love and mercy, then cover him with God’s grace. Let him feel God’s tenderness, touch his soul, and bring him great peace and joy.

Aku mensyukuri hadirnya. Naifku berpikir “tidak masalah jika aku tidak dekat dengan orang tuaku, tapi aku sangat berharap hadirnya adikku membuat keluarga kami menjadi utuh”. Lalu akhirnya doa itu terkikis dan menjelma menjadi doa di mana “eratkan lah hubungan adikku dan orang tuaku, pun tidak ada aku di dalamnya.” Setidaknya itu menjadi doa realistis yang bisa kurapal.

Aku tahu Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia, tapi sampai saat itu datang, aku akan terus berdoa agar adikku setidaknya tidak perlu melalui dan merasakan apa yang aku alami dari dulu. Biarlah ia penuh akan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, kakaknya, kakek nenek, tante, om, sepupu-sepupu, semua orang baik yang mengasihinya.

Dia anak yang baik, penurut, cukup pendiam, namun mampu bertanggungjawab terhadap dirinya sebagai seorang anak sekolah (setidaknya Ia cukup berprestasi dan membanggakan).

We may not be born into whole families, perfectly. Not after our parents divorced and my mother took custody of my little brother. Doaku menjelma lagi untuk adikku “semoga Ia bisa menjaga mama, melindunginya, dan mampu menjadi lelaki yang bertanggung jawab untuk hidupnya kelak.” I’m sure he can do it.

Suatu hari nanti, ketika dia sudah jauh lebih dewasa dan mengerti akan banyak hal.. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu bukti kalau aku tulus menyayanginya dan mendoakan segala hal baik untuknya.

Our journey through life may take us far apart but it won’t matter as neither distance nor time will dull that which is between us. But, I just want him to know that I will always be here whenever he needs me. Dear lil’ bro… Thank you for coming to my life 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s