DAY 9: Write about Happiness

#30DaysWritingChallenge

“Kapan terakhir kali kamu bahagia?” “Kapan terakhir kali kamu memikirkan diri sendiri dulu sebelum orang lain?” Dua pertanyaan itu mengawali setiap sesi konseling yang kulakukan dengan psikolog beberapa waktu belakangan ini.

Bahagia. Terdengar kata yang sepele dan remeh mungkin. Tapi, apakah yang kamu rasakan benar-benar murni kebahagiaan ataukah semu semata?

Mungkin ini kali pertama aku menuliskan tentang kesehatan mental dan perlu kehati-hatian di dalamnya. Satu yang pasti, semua yang aku tuliskan ini adalah dari pemikiranku semata. Adapun pandangan yang berbeda tidak menjadi masalah. Manusia diciptakan memiliki otak untuk berpikir dan perbedaan pendapat menjadi hal yang wajar. 

Isu kesehatan mental ini sudah banyak dikampanyekan belakangan ini, namun nyatanya sedikit dari orang-orang yang benar-benar mau peduli tentang isu ini. Banyak yang masih menganggap kalau kesehatan mental itu ya sama dengan sakit jiwa, harusnya ke rumah sakit jiwa karena kamu gila. Padahal, sama seperti sakit badan yang bisa dirasakan secara fisik, mental pun bisa terasa sakit, perlu diobati, perlu penanganan. Namun mirisnya banyak yang mengaitkan kesehatan mental dengan kurangnya ibadah, rasa syukur, dan sebagainya yang erat kaitannya dengan agama seseorang. 

Aku ingat betul ketika pertama kali aku menyadari kalau aku merasakan perasaan dan emosi yang sulit teridentifikasi hingga mengganggu diriku dan sampai berdampak pada fisikku. Ketika “situasi tersebut” muncul, aku akan dengan mudahnya migraine, sesak napas (pun aku tidak memiliki riwayat asma atau semacamnya), hingga ke munculnya ruam-ruam di sekujur badanku. Karena aku menyadari itu bisa mengganggu hidupku jika tidak ditangani, aku mencari “pertolongan” karena apa yang aku rasakan harus diobati.

Kamu mungkin tidak tahu bagaimana rasanya ketika ada yang mengetahui apa yang kamu alami lalu dengan mudah menjustifikasi dan mengaitkannya dengan keimanan yang kamu miliki. It feels so hurt. Terlebih jika orang tersebut adalah orang yang dekat denganmu. Bagiku, agama dan keTuhanan sangat bersifat personal.

Lalu, apa kaitannya kesehatan mental ini dengan kebahagiaan? Tentu ada. Bagaimana aku bisa tidak hanya mendefinisikan kebahagiaan namun benar-benar merasakannya di saat aku sendiri masih berkutat dengan kesehatan mental? 

You can have a mental illness, have bad days, and still have good days.

“Kebahagiaan itu datang dari diri sendiri” aku sangat setuju dengan pernyataan tersebut. Tapi, tidak semudah itu. Salah satu yang sedang kulakukan ialah self acceptance karena sebenarnya itu adalah akar masalahku. Bagaimana aku bisa menciptakan kebahagiaanku sendiri ketika aku tidak bisa menerima apa adanya diriku? It’s definitely uneasy and I’m still on some therapy to solve that issue. 

Terlebih ketika pandemi melanda dunia. Siapa yang menyangka hampir sebagian besar waktu di 2020 ini kuhabiskan lebih banyak di kamar, jauh dari keluarga, di negeri orang. Tidak hanya dengan menjaga kesehatan tubuh secara fisik namun juga menjaga kesehatan mental adalah cara agar bisa bertahan di tengah covid-19 ini. 

Jadi, berbicara tentang kebahagiaan adalah hal mahal yang penuh perjuangan untuk kuciptakan. Bentuknya sangat beragam dan bisa saja sederhana untukku. Sesederhana tertawa lepas tanpa beban.

Panjang umur perjuangan untuk orang-orang yang masih mencoba bertahan dan terus mengasah diri untuk menciptakan kebahagiaan di tengah pandemi ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s