DAY 3: A Memory

#30DaysWritingChallenge

Rasanya terlalu banyak memori yang dapat disimpan di dalam otak manusia. Penyimpanan short-term memory ada di bagian lobus frontalis, tepatnya di prefrontal cortex. Setelahnya hippocampus akan bekerja untuk menjadikan memori pendek menjadi jangka panjang. 

Lalu satu memori apakah yang terekam dalam hippocampus-ku?

Sangat sulit untuk memilih satu dari sekian memori yang sudah lama mengakar. Segala rupa rasa ada di sana, pahit, manis, membentuk seperti kepingan kolase yang kembali menyatu ketika aku kembali mengingat apapun itu di masa lalu.

Hari itu aku mendapati nenek terbaring lemah tak berdaya, membisikkan aku yang ada di sisinya untuk menuntunnya bersyahadat sambil memeluknya erat. Tidak ada banyak orang yang bisa dimintai tolong dengan cepat pada saat itu. Nenek begitu keras kepalanya tidak mau dibawa ke rumah sakit, dan aku terus merapal doa di tengah kepasrahan yang mendera.

Hingga esok harinya, nenek bisa diperiksa dan dirawat. Tuhan memang benar adanya sebagai Sang Maha Pendengar untuk tiap lirih dan bait-bait doa di tengah lumuran dosa-dosaku sebagai umatNya. Bukanlah penyakit berat yang mendera, pun begitu aku menyadari aku belum dan tidak akan pernah siap untuk kehilangan beliau.

Rasa takut kehilangan yang pertama kali kurasakan dan terus menjadi memoriku. Hingga awal tahun ini rasa itu kembali muncul ketika aku harus mengantarkan nenek masuk kamar operasi untuk melepas pen pasca kecelakaannya tahun lalu. Membayangkan tubuh ringkihnya yang menahan dinginnya ruang operasi, lelahnya dengan segala pengobatan yang harus dilakukan selama setahun bolak-balik rumah sakit, sungguh menyiksaku.

Lagi-lagi Tuhan Maha Baik. Nenek sehat, baik-baik saja dan kuharap akan selalu begitu.

Ada irama rindu yang terus kusenandungkan di tengah ribuan mil jarak yang harus kami hadapi sekarang. Ucapan kasih sayang atau sekedar pelukan seringkali membuatku jengah dari dulu, pun dari nenek. Namun, aku seperti manusia lainnya yang lebih sering abai dan memilih menabung sesal.

Kenapa tidak kucurahkan dan tunjukkan banyak kasih sayangku agar tidak hanya sedikit memori yang terus kuulang-ulang sebagai penawar rindu? Semoga kami bisa terus bertahan melalui memori yang ada. Semoga kami terus menjaga diri untuk sehat sampai waktunya tiba, ketika semua bisa kembali berkumpul..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s