Melipir ke Port Dickson, Negeri Sembilan

Karena Malaysia ga cuma Kuala Lumpur!

Yow! Sesungguhnya aku teramat lelah melanjutkan artikel Port Dickson sebelumnya. Namun karena anaknya ga suka ketika sudah memulai tidak terselesaikan #eh yaudah lanjut deh yah bagian keduanya..

Tujuannya buat apa nulis ini? Kepuasan pribadi! Selain memori di otak, foto, video, dengan menulis aku bisa kembali mengingat apa yang pernah kulalui di hidupku seandainya lupa ingatan kan di masa depan (amit-amit Ya Allah).

Baiklah, melanjutkan cerita perjalananku di Port Dickson..

Tanjung Tuan, Port Dickson Negeri Sembilan
I found this hidden gems!

What did I do? Chill! Iya, bener-bener cari spot duduk di bibir pantainya, menatap nanar jauh ke titik tanpa batas di garis pemisah antara langit dan laut *mengheningkan cipta dimulai*

Lalu impulsive dengan hal yang belakangan ini lagi sering aku lakukan, aku coba menikmati moment untuk melukis dengan cat air. Airnya dari mana? Air laut! Hahahhahaha

Tanjung Tuan, Port Dickson Negeri Sembilan
Ga mirip? Ga peduli~~
Tanjung Tuan, Port Dickson Negeri Sembilan
Sesepi ini tempatnya.. So peaceful!

Karena kelelahan yang disebabkan ke-sotoy-an diri sendiri, jadilah besoknya alias hari ke-2 aku bangun siang dengan badan terasa kepayahan (faktor “U” memang tidak bisa menipu). Menjelang siang, setelah check out dari penginapan, karena tiket bis balik yang kupesan online tersebut jadwal keberangkatannya masih sore, jadilah masih punya waktu buat menyusuri tempat lain di Port Dickson. Kali ini tujuannya ke Pantai Saujana. Kenapa pilih pantai ini? Karena searah sama jalan menuju ke terminal Port Dickson.

Berlandaskan rekomendasi driver Grab yang tau kalau tampangku kayak anak belum dikasih makan dari kemarin (muka kelaperan banget pakbos!) dan karena tau juga aku orang Indonesia (padahal udah sok-sok an ngomong bahasa Melayu masih aja bisa ketauan yasudahlah), Pak Cik merekomendasikan rumah makan Indonesia di depan Pantai Saujana. Namanya RM Ida Man.

Rumah Makan IdaMan Pantai Saujana Negeri Sembilan, Port Dickson
Idaman betulsss ini tempat~

Beuuuh bahagia banget pas di bawa ke sini dan ketemu sayur lodeh sama lele goreng cabai hijau plus nasi cuma seharga 5 MYR! Ga mungkin nemu kayak gini semurah itu di KL 😦 Semurah-murahnya makanan Indo dengan menu sama di KL Sentral minimal 10 MYR ke atas. Iya 2x lipat lebih. Hepi banget ga siiiiih, dan terlebih lagi ini di tempat wisata bok! Sudahlah recommended kalau kalian ke Port Dickson bisa mampir ke RM Ida Man ini depan Pantai Saujana, dekat pom bensin Petronas :’) 

IMG_4143
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan” :))

Beda dari Teluk Kemang yang ramainya ga abis pikir deh, karena Pantai Saujana ini panjang, jadilah jauh lebih sepi. Tapi karena aku datang di tengah hari bolong, ya sudah pasrahlah dengan terik matahari yang ada.

Pantai Saujana Negeri Sembilan, Port Dickson
Sepanjang dan sesepi ini pantainya~

Karena berprinsip mending nunggu di terminal aja dan karena makin ga sanggup menghadapi semburat sinar matahari yang panasnya luar biasa, jadilah aku putuskan untuk menuju ke terminal. Dengan begitu, berakhir sudah deh perjalanan random ku kali itu.

Oh ya, ada sedikit yang berbeda dari perjalanan pergi. Kalau saat pergi dari apartment aku memutuskan untuk naik Grab, di perjalanan pulang aku memutuskan untuk naik KLIA Express dari TBS ke KL Sentral. Dari KL Sentral ganti LRT deh menuju ke apartment. Alasannya kenapa? Selain ganti suasana, karena di jam-jam ketibaanku waktu itu sudah dapat dipastikan akan ada jam di mana-mana. Jadilah ambil metode alternatif transportasi lain yang lebih nyaman.

IMG_4194
KLIA Express

Pada dasarnya, manusia selalu perlu ruang untuk kenalan sama diri sendiri, sekedar “ngobrol” dan menanyakan ke diri sendiri “lo mau apa sih di hidup lo?” gitu kira-kira.

Trust me, ketika melakukan solo-traveling banyak banget hal yang bisa diambil. Bisa kenalan sama orang baru, bisa dapat inspirasi dari hal-hal di tengah perjalanan, yang terpenting jauh lebih mengenal diri sendiri (karena akan banyak percakapan sendiri di otak).

Apa yang bisa dinikmati dari solo-traveling? Mengetahui diri sendiri!

Semoga siapapun kalian yang baca ini pun begitu. Mumpung masih hidup, masih bebas mau ngapain aja, ga salah kan buat menjelajah?

Kalau nggak sekarang, kapan lagi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s