Tetiba Melancong ke Port Dickson!

Hiburan ga semata “mall”

[LONG ARTICLE ALERT!]

Setelah meditasi berbulan-bulan, menghilang dari peradaban (ga deng lebay ini sih), akhirnya niat terkumpul buat ceritain pengalaman short-trip ini.. Beberapa bulan lalu, tepatnya di tanggal 9-10 September 2018 aku melakukan solo-traveling ke daerah bernama Port Dickson di Malaysia. A random-quick-getaway karena idenya dadakan banget agak kayak tahu bulat gitu -_-

Pengalaman “ngebolang” yang sering aku hadapi adalah nyasar! Buat yang cukup mengenalku, tentu ga heran kalau aku cerita “eh, gw nyasar nih.” Entah mereka akan jawab “Kebiasaan!” atau “Kurang-kurangin deh Far” atau bahkan juga malas menanggapi karena terlalu SERING! But believe me, mau se-drama apapun adegan nyasar yang pernah aku lewati, lama-lama aku merasa “nyasar” itu selalu seru.

Bener sih hidup memang selalu perlu punya tujuan agar fokus arahnya mau kemana.

Just try to have no plan and go show. You’ll meet many unforgettable things you’ve never imagined before!

Karena itu kali yah aku ga peduli hari itu aku mau kemana pokoknya keluar aja. Takut nyasar? Ya takut mah pasti ada yah.. Tapi yaudah, senyasar-nyasarnya sekarang, teknologi kan udah maju yah.. Banyak banget aplikasi penunjuk arah atau ya tinggal “tanya” sama Google! Still clueless? Order aja transportasi online buat kembali ke rumah. Ga ada koneksi internet atau hp mati? Yaudah konvensional tanya orang lain, intinya coba berkelana dan cari tahu solusinya sendiri. Pasalnya, ga ada masalah tanpa solusi.

H-3 baru kepikiran mau main ke tempat baru lagi dan muncul aja udah ide mau ke Port Dickson ini. Di samping karena jatah cuti masih banyak dan udah apply cuti sehari di Senin, 10 Sep itu jadi yaudahlah pergi aja. Ya, kerjaanku di Malaysia kalau lagi mood, tentu explore tempat-tempat baru. Kalau ga mood terus ngapain cuti? Istirahat aja leyeh-leyeh di kamar LOL~ Ga ada yang bisa diajak? Pergi sendiri! Tapi sejujurnya aku jauh lebih nyaman ngebolang sendiri sih ya, no drama rebutan destinasi, mau makan apa, dll. But hey, it doesn’t mean I don’t like traveling with people such as friends or family. I do. Tapi ya itu, kalu lagi pengen sendiri ya sendiri aja udah.

Well, Port Dickson jadi salah satu destinasi yang mau kucoba setelah sebelumnya sempat diinfokan oleh seorang kenalan di Kinokuniya–sempet kubahas kok di postingan sebelumnya. Lokasinya 1,5 – 2 jam kira-kira dari KL. Pake rencana? Jelas ga! Sampe H-1 siang masih mikir PP ajalah ga usah nginep, ga jauh-jauh amat juga kok. Kemudian, bak dapat wangsit tiba-tiba, pas H-1 malam harinya mulai nyari info mau ngapain di Port Dickson (kebayang ga sih mau pergi tapi nyari tau tempatnya aja males, ya gitu deh :p). Setelah penuh pertimbangan akhirnya mutusin buat 2 hari 1 malam ajalah di sana.

Booking penginapan pun via booking.com yang ga perlu bayar dulu kecuali jadi/confirm bermalam sesuai waktu yang kita pilih. Aku juga pake metode bayarnya cash kok (kali aja tiba-tiba berubah pikiran ya kan ga jadi nginep hahaha). Belum berakhir spontanitas di hidupku ini, masih di malam H-1 itu aku baru cari tahu gimana cara ke sana (dan berakhir dengan booking bis online via easybook.com). Besoknya yaitu di hari H, nyaris telat ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang jadi tempat keberangkatan bisku ini. Untungnya, terselamatkan oleh abang Grab~

Semua yang serba pertama kali dan penuh spontanitas belaka itu pasti rasanya antara fully excitement atau takut, dan lain-lain. Ya tapi di situ menariknya. Kali pertama juga aku menuju ke terminal ini. Udah mikir kayak terminal Pasar Rebo mungkin? Kampung Rambutan? Intinya terminal-terminal di Jakarta yang “amazing” atau malah kayak terminal Leuwi Panjang di Bandung? Hahaha.

Well surprisingly, kayak gini bentukan terminalnya…

IMG_E4026

IMG_4027
Terminal Bersepadu Selatan (TBS)

Sampai TBS, kudu setengah berlari buat nyari loket untuk check in (iye ga salah baca kok, emang macem bandara gitu deh pake check in) buat dapetin boarding pass!

IMG_E4028
Waiting Area di TBS (kalau sudah berhasil check in)

Anyway, bisnya ini sudah ada seat number nya dari pas booking awal. Untuk biayanya sekali jalan dari TBS – Terminal One Seremban 6.20 MYR. Sebenarnya menuju Port Dickson ini bisa dilakukan dengan berbagai alternatif transportasi umum. Naik KTM pun bisa, tapi waktu itu mau nyoba bis antar kotanya, jadilah pilihan menggunakan bis, bukan kereta.

IMG_4030 (1)
Boarding Pass bisnya 🙂

Perjalanan 1 jam sampai di Terminal One Seremban. Eits.. Belum kelar sampai situ saja bos! Masih harus mencari plang bis yang ke arah Port Dickson (biasanya ada di row ke 20, bis T30A). Jadi, harus ganti bis dalam kotanya sekarang. Bis berangkat setiap satu jam sekali, jadi ya pintar-pintar menyesuaikan waktulah yah.

IMG_4033
Cari bis T30A di row 20

Ga perlu ke loket buat beli tiket, cukup ngantri aja udah pas bisnya dateng, masuk, ya langsung bayar di dalam bisnya ke supirnya langsung (ga ada kenek/kondektur macem di Indonesia yah monmaap). Nanti tinggal sebut ke driver-nya mau ke PD (Port Dickson), terus dapet deh struk dengan tarifnya, 3.6 MYR. FYI ini adalah terminal paling terakhir dari rute bisnya, jadi kalau mau tidur dulu harusnya aman hehe.

IMG_4034
Pastikan untuk bilang ke drivernya tujuan akhir, “Termina Port Dickson”

Kira-setengah jam perjalanan untuk sampai ke Terminal Port Dickson ini. Dari situ 1.5-2 kilo bisa susuri PS Waterfront City (semacam rest area tapi pinggir pantai). Bisa jalan kaki santai, tapi kalau malas dan gatau arah naik grab kira-kira 5 MYR. Terus ngapain aja di sana? Karena ini pantai karang gitu, dan ga bisa berenang, jadilah kalian bisa nikmatin pemandangan aja kalau mau ke sini. Atau kalau suka memancing bisa juga.

Ga lama kok aku di PS Waterfront City, habis nge-McD (iya, karena ya macem rest area jadi beneran ada McD, Starbucks, ya gitu-gitu deh) aku mutusin buat ke penginapan untuk taruh beberapa barang sebelum mulai explore Port Dickson!

Tempat selanjutnya yang aku datangi ialah Teluk Kemang. Sedikit cerita pengalaman “ngeri-ngeri sedap” menuju ke Teluk Kemang disponsori oleh driver Grab! Lokasinya dari penginapan kira-kira 5 km, jauh ye kalau mau jalan kaki. Dari awal order udah agak aneh sih, entah karena aplikasi driver belum update atau gimana, yang jelas fitur chat di Grab yang harusnya aktif malah ga bisa di-chat. Mau ga mau ya harus nelfon buat cek lokasinya karena dibilang udah nyampe, tapi ga keliatan mobilnya. Ternyata, salah arah parkiran -_- Yaudah deh, long-story-short seperti driver Grab pada umumnya kalo ngeliat penumpangnya sendiri ya pastilah beramah-tamah nanya ini-itu. Sejujurnya, seringkali aku malas menanggapi pertanyaan yang sifatnya kayak introgasi. “Sendirian aja?”, “Ngapain ke sini?”, “Liburan atau business trip?”, “Udah berapa lama di Malaysia?”, sampe mulai nanya-naya personal “Kerja apa? Dimana? Besar yah gajinya” WTH! Dari yang jawab masih ramah sampe mikir “Apaan sih oy!”. Iya…. Ga jarang ditanya-tanyain kayak gini kalau tahu foreigner yang “mengadu nasib” di negeri jiran ini.

Sebatas pertanyaan mungkin tidak masalah. Tapi yang lebih parah dari itu, si driver Grab ini yang mana ternyata foreigner juga (orang Bangladesh) ini cenderung memaksa untuk menawarkan jadi tour guide selama di Port Dickson bahkan mengaku rela mengantar balik esok harinya ke KL. Karena seorang diri di perjalanan, jadilah memunculkan cerita-cerita manipulatif yang tujuannya menyelamatkan diri dengan mengaku ada acara dan ingin menemui teman di Teluk Kemang. Entah karena tampangku kelihatan bohongnya atau gimana, masih gigih juga driver ini “memaksa”. Tahu gimana caranya? Udah turun dari mobil, udah di Teluk Kemang, dapet WhatsApp dari nomor driver tersebut. Dibaca? Ga! Lebih annoying ketika dia berkali-kali menelfon. Blocked!

Ya itu cerita selingan aja sih yah. Intinya..

Kalau mau solo-traveling, jangan keliatan sendirian banget supaya ga terlihat bisa dengan mudah “dibodoh-bodohi”.

Well, kembali ke Teluk Kemang. Buat yang ga suka sama keramaian, I really do not recommend this place for you! Kayak apa yah? Ancol? Too crowded! Karena aku bukan orang yang suka keramaian, jadilah cuma di sini kira-kira 1 jam.

Teluk Kemang, Port Dickson
Teluk Kemang, Port Dickson

Di Malaysia ini, khususnya daerah-daerah pantai, wajib banget minum coconut milkshake (waktu itu aku minum seharga 3.5 MYR) plus jajanan khas Malaysia namanya Lekoor (2 MYR, 5 potong).

IMG_E4067

Bosan! Kuputuskanlah untuk pindah tempat. Setelah cari-cari di internet, ada satu tempat yang katanya juga jadi tujuan para pelancong di Port Dickson, Cape Rachado lighthouse (another 5 kilos to go there).

Sampai di gerbangnya, perlu bayar entrance fee sebesar 1 MYR, lalu menuju lighthouse nya aku harus trekking dulu kira-kira 10-15 menit. Nah di sini mulai deh drama kembali muncul ke permukaan 😀

Tanjung Tuan, Malaysia
Gerbang masuk Tanjung Tuan, Malaysia

Udah lama ga trekking, jadiah antara semangat dan ngerasa gampang lelah. Iya, baru beberapa meter aja karena penuh tanjakan jadilah ada pos pertama yang dilihat (rumah pohon gitu) berhenti. Kepintaran pada saat itu ialah: lupa bawa air mineral dan karena hutan itu termasuk area konservasi, ga adalah batang hidung orang yang menjual minuman. Selamat Farah! Oh ya sampai ke tempat ini sudah menjelang sore yah, kira-kira pukul 4 sore, awalnya ada beberapa orang nih yang ikut serta. Karena mungkin kelamaan duduk (15 menit lah) di pos peristirahatan itu, baru sadar kalau orang-orang udah lenyap dari pandangan mataku.

Hutan konservasi Tanjung Tuan, Malaysia
Area konservasi Tanjung Tuan, Malaysia

Hmmm~ Baiklah mari kita lanjutkan perjalanan. Setelah melanjutkan 10 menit lagi perjalanan, akhirnya kelihatan juga lighthouse-nya. Kesenengan? Banget! Tapi agak aneh sih buat semacam yang katanya “a must place to visit” ini kok yah sepi? Mulai panik dong.. Jeng jeng… Tutup sodara-sodara. Lupa hari itu hari libur karena peringatan hari lahirnya pangeran di daerah itu -_- (Iya, di Malaysia tuh liburnya banyak banget, segala pangeran-pangeran di masing-masing daerah ulang tahun ya libur).

Cape Rachado Light House Tanjung Tuan, Malaysia
Cape Rachado lighthouse

Terus, what did I do? Pulang? Tentu tidak! Merasa “yaelah udah jauh-jauh ke sini masa gini doang”. Alih-alih balik ke jalan sebelumnya, ada jalan lain yang terlihat “wah di sana ada apa yah?”, intinya berdasarkan kesotoyan ya aku memutuskan buat susuri jalan yang ada di dekat pintu lighthouse itu. Jalan setapak, tapi masuk hutan-hutan dan ya.. Agak-agak challenging sekali jalanannya. Antara mau balik lagi karena kok ya jalannya kayak tak berujung, sama perasaan “ga bisa nih, masa segini doang sih” Nekat? Iya! Dalam hati mah ga kelar-kelar dzikir kayaknya :’D Bukan apa-apa yah, soalnya malam sebelumnya baru aja nonton film The Nun, kebayang ga di salah satu adegannya ada yang di tengah hutan juga gitu -______-

IMG_4075
Nyasar itu “seni”

Okelah, mulai tenang pas akhirnya mendengar suara air! Iya… Suara ombak dari pantai gitu. Makin optimis pasti ada tembusan ke pantai nih, ga mungkin suaranya dekat tapi ga ada pantai. Dalam hati “semoga suara ombaknya bukan halusinasi semata” Hahah.

Setelah jalan kira-kira 15 menit-an…. Jeng jeng…

[To be continue to Part 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s