Kaleidoskop Farah 2018!

Throwback to what I’ve been through..

Is there anyone who mentioned that life has to be conventional? No one! “Ga bosen apa kerja pindah-pindah?”, “Kapan mau nikah?”, “Jalan-jalan mulu, kapan nabung buat nikah?”, “Lihat deh temen-temen lain udah pada punya anak, ga tertarik punya juga?”. Muak ga sih sama pertanyaan template bersiklus dengan benchmark hidup konvensional: sekolah – kerja – nikah – punya anak? Kenapa kita terlalu sibuk ngurusin hidup orang lain daripada mikirin apa yang bisa kita kasih ke dunia ini selama kita hidup?

I’ve been learning many things so far. 2018 is a real epic year for me! Lit! Dari pada lama-lama tipes menyerap segala bentuk pertanyaan yang sifatnya “nyinyir bin julid”, I would look back to what I’ve been through in 2018 and let the negativity goes away!

On January 2018, I really had no idea what would it be during a year ahead. All I remember is.. I wanted to live far away from the density of capital city, Jakarta. Rasanya mulai muak pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari sudah berganti jadi bulan setiap hari selama hari kerja. I needed something new, meskipun pada saat itu tidak pernah terpikir bagaimana caranya. A glimpse-thought.. Banyakin liburan di 2018! Udah gitu aja..

On February, I had a very good and intimate trip with one of my besties to Jogja. Sweet escape though! Dari situ aku semakin yakin, dengan melakukan perjalanan aku merasa “hidup” dan “membumi”. Aku pun semakin mengenal travel-mate ku saat itu, semakin sadar kalau banyak hal yang tidak akan bisa ditemui di bangku pendidikan. Contohnya? Semudah itu aku bisa tersenyum penuh syukur ketika menghirup segelas teh hangat dalam dinginnya malam di Gunung Kidul saat hujan.

IMG_7425

I Had a big decision on March 2018. Belum ada setahun kerja di salah satu perusahaan startup, aku harus pindah ke negeri tetangga. It was not as easy as I might think of.. By living overseas, memberikanku ekstra pelajaran dengan salah satunya ialah how to stand on my own feet and being independent? Di luar “kotak nyamanku”, di tempat baru yang memiliki banyak perbedaan prinsip dan khususnya cara manusia saling menilai satu sama lain. Dari semua ketidaknyamanan yang aku rasakan, aku nyaman berada di tempat di mana tidaklah sedikit orang-orang yang tidak memandang orang lain hanya dari sekedar identitas seksual, agama, ras, apapun itu faktor X Y Z orang lain–which I really like the most rather than in my country (yang masih aja sibuk debatin fatwa, cebong dan kampret, dll). Personality matters. Semakin kesini, aku pun semakin mengamini bahwa perbedaan itu memang ada, namun yang perlu diprioritaskan dalam suatu hubungan antar manusia ialah the way you behave to others. Period!

OLMK7126

On April 2018, I was busy to manage how to live far away from my family and friends while enjoyed my new life. It really was a bittersweet moment.

On May, I had my very first experience untuk puasa di “luar rumah”. Meskipun semasa kuliah pernah ngekos dan puasa jauh juga dari keluarga, but this time was completely different. Hal paling ngangenin di rumah ketika puasa adalah sahur dan buka puasa. Gimana ga ngangenin, kalau di rumah ga usah muter otak mikir mau makan apa. Anyhow.. I learned how to cook here. Bener-bener kerjaannya tiap hari itu bukain cookpad, cari menu yang mudah dimasak buat sahur. Buka puasa? I was surprise that Malaysia also had “tempat ngabuburit” yang disebut “PaRam” (Pasar Ramadhan). Menjelang buka, banyak kok lapak-lapak makanan dadakan yang akan kasih kita pilihan menu buka puasa banyak banget! Hal yang seru lagi? Selama bulan puasa kalau ga mau ribet (plus hemat), masjid bisa jadi pilihan tempat buka menarik. Kenapa? Di sini, makanan akan melimpah ruah. Ga cuma ta’jil dan makanan berat buka puasa yah, kalau mengikuti tarawih di masjid, kita akan disuguhi “Moreh” (jamuan makan bisa berupa bubur pulut, sate ayam, apapun deh pokoknya makanan selepas tarawih). Kalau niat, bisa dibawa kok buat sahur :’D

IMG_1096.jpg
Accidentally joined as a Ramadhan Volunteer with MMU (MultiMedia University) Malaysia–still suitable enough as a uni student tho :p

June 2018 was a reunion. 3 bulan di luar, akhirnya bisa kembali berkumpul sama kerabat, keluarga, sahabat, semua orang terkasih–total 10 hari di Indonesia. It’s more than enough for me during that time.

Started Mandarin course on July 2018. Masih inget banget setahun awal di perkuliahan wajib ambil mata kuliah Mandarin dan eneknya udah sampe ke ubun-ubun. Terus ngapain ambil kursus lagi di sini? To not waste my times here. Gimana ga kebanyakan waktu luang.. Jarak antara kantor ke tempat tinggal naik LRT cuma 15 menit, and surprisingly I don’t like “nongkrong-nongkrong” selepas ngantor kayak di Jakarta dulu. Ya, kalau di Jakarta kan bisa dijadiin waktu untuk menghindari macet dan banyaknya orang di KRL. Di sini? I didn’t experience any of those.

IMG_9734

August 2018 was one of my hardest parts–which I couldn’t tell any details why, but I thank to that moment now. Oh yeah, and I also spent my first time having Idul Adha in KBRI! See my post here..

there is a storm inside your head
August feels

I did my first solo travel in Malaysia to Port Dickson on September. It was some kind of “healing-journey”. Wait, no.. Lebih bisa dibilang perjalanan untuk menemukan. Salah satu hal menyenangkan dari solo traveling untukku ialah, lebih mengenal diri sendiri: What I really wants and needs in my entire life. Top of that.. What have I done? Perjalanan yang akan memberikan konklusi untuk lebih fokus menjadi versi terbaik dari diri kita tanpa sibuk memikirkan apa yang orang akan pikirkan tentang kita.

IMG_4131
Teluk Kemang

October is always be my month! Most people will be excited to wait “their-months” (baca: bulan kelahiran mereka). Anyhow, these past few years.. I don’t feel as it’s a month to celebrate like a real celebration–if you know what I mean. For me, birthday means a day of introspection–to look back and get amazed how my life changed over the past one year. It really is an awesome day to relax, think and start with full force again to achieve things that I’m aiming to, for a year ahead. Since last year, I’d love to spend my “special day” by traveling to new places, in terms to escape from my hustle-bustle life. Kalau tahun lalu trip-nya ke Dieng, tahun ini aku habiskan di Pulau Penang lalu lanjut Pulau Langkawi selama 5 hari 4 malam. One word: Amazing! Bukan hanya karena melihat budaya baru, hal baru, namun lagi-lagi lebih karena mensyukuri bahwa aku masih diizinkan oleh Sang Pencipta untuk menikmati keindahan-Nya di 27 tahunku :’)

November was a connecting-month! Di samping karena aku kembali bertemu dengan banyak teman-teman lama, aku merasa lebih bisa melihat apa yang sudah kulalui dan menghubungkan satu demi satu menjadi satu kesatuan yang utuh di hidupku. Bulan di mana aku bisa banyak berpikir secara utuh, jelas, jernih, dan lebih positif.

I finally could recharge my soul and energy on December–the last month in 2018 by coming home! It might be a short staycation, 4 days 3 nights.. Tapi banyak energi yang bisa kudapatkan ketika pulang dengan bertemu keluarga, kerabat, sahabat. Iya. Pulang. Semua yang pergi, akan pulang. Tapi pulangku kali itu adalah untuk kembali pergi. At a certain time, one day.. I will be home for good, to spend the rest of my life at home–wherever the place is.

IMG_6705.jpg
Sum up office life with this “appreciation-night”

Seringkali orang memberikan label bahwa dengan tinggal di luar Indonesia berbanding lurus dengan tingkat nasionalismenya. I disagree! Tinggal di luar tanah kelahiran ga serta-merta membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap asalnya kok–at least for me. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa cinta kita, kepada Indonesia misalnya dalam konteks ini. Sampai sekarang aku belum menemukan aturan yang menegaskan berbuat baik haruslah dilakukan di tempat kelahiranmu. Not even once! Banyak kok diaspora yang melakukan kegiatan positif dengan mengharumkan nama bangsa, dan di sisi lain tidak sedikit juga orang yang tinggal di dalam Indonesia namun merusak nama Indonesia sendiri.

Ini bukan tentang di mana kamu tinggal, melainkan bagaimana kamu bersikap dimanapun kamu berada.

Mau lari ke Antartika pun, data yang melekat ialah WNI yang mana apa yang akan aku lakukan akan memiliki image “oh iya, si orang Indonesia itu…” So yeah.. Biar pun jauh dari Indonesia, aku punya tanggung jawab untuk ga membuat orang melabeli negaraku dengan hal yang ga enak kok 🙂

There’s another question, kenapa banyak orang yang senang melihat rumput tetangga lebih indah? (I also questioning this to myself). Berapa persen orang yang benar-benar peduli dan mencari tahu bagaimana si tetangga ini memperindah rumputnya? Kita ga pernah tahu usaha di balik kesuksesan seseorang karena mungkin terlalu sibuk menjadi pemerhati dan mungkin juga pencibir (?) Kita ga pernah tahu berapa banyak pengorbanan yang harus mereka lakukan, berapa jam mereka bisa tidur dalam sehari, se-hectic apa kesehariannya.

As a human-being, we sometimes busy to criticise while others might work their asses off to get a better life!

Aku selalu berprinsip “Ga ada yang namanya ‘bisa’ atau ‘ga bisa’, karena semua yang ada di dunia ini pasti bisa dilakukan. Pertanyaan yang tepat harusnya ‘mau’ atau ‘ga mau’, karena semua orang pasti ‘bisa’ melakukan apapun kalau ‘mau’!”

Dengan merasa selalu lebih baik dari orang lain, sudah pasti akan memudarkan rasa urgensi untuk mengaktualisasikan diri. Dan pada akhirnya, Tuhan itu Maha Adil kok karena usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

So come to an end..

During 2018, through many ups and downs in my life.. I still be thankful to what I got and lost at the same time. Alhamdulillah :))

Semoga siapapun yang sudah cape-cape baca tulisan kesana kemari ini sampai di bagian akhir ini bisa juga bersyukur dengan hidup kalian. Stay healthy and happy!

Welcome 2019!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s