Menghidupkan Mesin Waktu

Tidak ada yang salah dengan kembali ke masa lalu

Memulai selalu jadi hal yang mendebarkan dan sulit di saat yang bersamaan. Iya, sama kayak mau mulai masuk sekolah dulu mikirin gimana nanti di kelas, siapa teman-temannya, gurunya bisa diajak bercanda asik atau ga, dll. Atau kayak gimana cara mulai mengajak gebetan dalam pembicaraan yang ga kedengeran sok asik. “Lah cewe emang bisa mulai?” Hellloooo~ I’m not that type of person, who’s over gender-stereotype like “cewe boleh ini, cewe ga boleh itu.” Eng~ Nganu… Ini tulisan mau dibawa kemana yah? Heu~

Kayaknya kalau bisa kembali ke satu masa selama hidup, aku akan menggunakannya ke masa kecil. Ketika imajinasi bisa berlarian seliar mungkin tanpa batas dan saat di mana sebuah rasa takut mampu terkalahkan oleh sebuah rasa penasaran.

Do you still remember what’s your dream?

I believe most of people don’t. Dalam proses menuju dewasa,  begitu banyak kejadian yang terlewati dan harus dihadapi baik secara langsung maupun tidak yang memerintahkan otak kita untuk mengelompokkan sesuatu berdasarkan pada kemampuan yang kita miliki. Mau atau tidak mau, bisa atau tidak bisa, sekarang atau nanti, semua menjadi sebuah pilihan yang butuh waktu tidak sebentar untuk diputuskan. As we grow older, we become overthinker than before.

I was born and raised in a family that taught me “if you want something in your life, you have to make it happen by yourself”.  That’s what I’ve been through. Sampai akhirnya ide liar muncul ketika salah satu teman mengajak backpacker-an ke 4 negara (Vietnam – Kamboja – Thailand – Singapura) selama 12 hari di tahun 2012. Gila? Iya! Duit dari mana? Itu dia masalah utamanya.

Again as I said before.. Aku terbiasa dengan konsep yang ditanamkan oleh keluarga dari kecil, “Mau? Usaha!” Ga ada yang namanya tiba-tiba minta duit. Mustahil dikasih. Dasarnya emang demen aja sih sama tantangan, jadi ajakan si teman ini di-iyain ajalah dulu–padahal duit dari mana mah ga tau juga. Hajar weh~ Aku percaya “the law of attraction”. Ketika kita meyakini sesuatu dengan memberikan energi positif, akan ada aja caranya semesta mendukung kita. I don’t have times to talk in details about my trip (could be on my other post). Intinya ya, aku berhasil mewujudkan kenekatan itu dan ga pake minta-minta uang yah sama keluarga.. Caranya? Mulai dari nabung nyisihin uang saku kuliah (karena ngekos pada masa itu), sampai ada aja rejeki tak terduga dari niat awal bantuin salah satu kenalan di tempat magang untuk bikin jingle radio untuk usaha resto barunya, eh malah dikasih “tanda terima kasih”, dan berbagai macam “rezeki” tak terduga lainnya :))

I’m really grateful to that moment. Kalau ga nekat di saat itu, mungkin aku ga akan seberani sekarang dalam mengontrol hidupku sendiri. Ya, seperti yang aku bilang di awal.. Memulai itu selalu mendebarkan dan sulit, tapi ketika kita berhasil melalui permulaan tersebut kita akan merasa lega dan jauh lebih percaya diri untuk memulai hal-hal baru lainnya.

As my teenage-life years back then.. I just kept thinking how to see the world by flying somewhere far away out of the country where I live in and making friends from different countries. My family kept remind me to study hard so I’ll be able to get a high position at job, then it will lead me to travel abroad–as my dream.

Years passed by..

Lambat laun beberapa hal menjadi jelas dan sementara sebagian lain menjadi bias.

Nope. I don’t feel that get a high position at job is one of my goals. Aku percaya ada banyak hal selain menggadaikan kehidupan untuk jabatan semata demi meraih mimpi “mengenal dunia”. Aku mau menjadi individu bebas yang menjalani hidup bukan karena merasa bahwa value sebagai manusia semakin besar ketika aku memiliki “posisi”. Jauh dari itu, justru ada banyak hal yang bisa didapatkan ketika bisa “mengikuti kata hati” dan lebih “membumi”.

27 years old me now is living most people’s dream–they said. Aku punya kebebasan penuh memilih tujuan hidupku sekarang. Mungkin bagi kebanyakan orang di luar sana, keluarga menjadi acuan mereka untuk mengambil keputusan dalam hidup. It’s not happen in my life! Loncat ke sana kemari ga cuma kerjaan, bahkan sempat mutusin beberapa bulan ga mau kerja cuma mau jalan-jalan, sampai akhirnya sekarang ada ribuan mil jauhnya dari rumah (meskipun negara tetangga aja sih sama Indonesia).

“Ya keluarga lo ga peduli aja kali sama lo..” pun menjadi statement yang beberapa kali muncul dari orang–paling aku cuma nyengir kuda menanggapinya. Ga sedikit juga yang mencela, “Mau sampe kapan lo jadi kutu loncat ga ada juntrungan hidup?” atau kayak, “Ga cape apa pindah-pindah?” atau “Sampe kapan mau mengesampingkan pernikahan?”

Trust me… I don’t give a fvck!

Sejatinya, ga ada lagi keluarga yang saling ga peduli–kecuali emang sengaja saling menelantarkan satu sama lain (?) and it’s not my family at all. Terus kok bisa keluarga setuju-setuju aja? Gimana caranya meyakinkan keluarga untuk bisa menyetujui kata hati kita? In my case, karena mungkin terbiasa didoktrin dari kecil tadi, apa yang dimau harus usaha sendiri buat meraihnya. Bermodalkan prinsip itulah aku mencoba bicara baik-baik dan meyakinkan keluarga kalau apapun yang aku pilih, itu semua tanggung jawabku.

Contohnya ketika mutusin mau resign pastilah keluarga nanya dong, “Terus nanti mau ngapain? Pengangguran ga ada penghasilan gitu aja?” nah se-spontannya aku dalam berbuat, hal-hal kayak gini ga mungkin dong ga ada planning. Aku akan utarakan timeline ku tentunya. Habis resign mau apa dan berapa lama–ini yang paling penting. Deadline dari satu waktu ke waktu lain. Ya, harus bisa dong memutar otak mikirin ga ada penghasilan, lama-lama tabungan akan hilang tersapu waktu, terus gimana ngelanjutin hidup? Kapan mau mulai nyari kerja lagi? Hal-hal yang kira-kira akan menjadi momok masalah di kemudian hari harus sudah siap kita jawab. Ga cuma dijawab aja yah, tapi buktikan!

Awalnya mungkin penuh drama dan ketidakyakinan dari keluarga. Tapi percayalah, ketika kita berhasil membuktikan sekali saja.. You’ll get fully trust from your family right after!

Well, aku percaya banget pendidikan itu tidak hanya bisa kita peroleh di bangku sekolah / kuliah kok. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari hidup. Ilmu itu ada di mana-mana, dan itu yang menjadikan aku secara pribadi selalu merasa tertantang untuk mencoba memperkaya diri dengan melakukan hal-hal baru. Aku selalu merasa ada banyak hal yang harus dipelajari di dunia ini, tapi tidak ada jaminan sisa waktu kita untuk hidup kan? That’s why, I don’t want to be settled in one place for too long.. Bukan masalah loyalitas kok, but it’s my personal mission dan egoisme akan pencapaian diri sendiri aja. Aku juga ga pernah menyalahkan orang yang memutuskan mengabdi di satu bidang, satu tempat, untuk jangka waktu yang relatif lama. That’s great! I adore that kind of person. So, please just respect each person’s choices. Semuanya baik, semuanya punya tujuannya masing-masing kok.

Sampai detik ini aku masih sama seperti kebanyakan orang dewasa pada umumnya juga yang punya banyak ketakutan dalam hidup. Overthinking! Tapi yah.. You only live once and you only die once. Kalau sibuk dengan ketakutan di sana-sini terus, ya kapan bisa menjalani hidup dengan baik?

Be the best version of you as long as you breathe!

Kontrol penuh hidup kita ya ada di tangan kita sendiri, jadi posisikan aja diri kayak waktu kecil dulu di mana kita selalu punya keberanian dan kepercayaan diri yang tak terukur.

Hidupkan mesin waktu kita sendiri untuk kembali ke masa lalu sebagai loncatan masa kini dan masa depan kita. Yuk inget-inget apa aja mimpi-mimpi masa kecil kita yang mungkin tanpa disadari karena ketidakpercayaan diri malah kita kubur begitu saja?

Let’s make our dreams happen, not later but now!

2 thoughts on “Menghidupkan Mesin Waktu

  1. Pingback: URL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s