Mengurangi Penggunaan Media Sosial

Media sosial itu candu!

Tiba-tiba aku jadi tergerak untuk membuat tulisan ini karena jengah dengan pertanyaan yang berulang kali aku dapati beberapa bulan terakhir,

“Baik-baik aja kan?”

“Lagi ada masalah yah?”

“Kok ga posting lagi sih?”

Terus, aku speechless sendiri sih karena begitu mudahnya orang menilai kondisi seseorang contohnya berdasarkan media sosial-nya. It really is ridiculous!

Well… Ga ada yang salah kok sama bagaimana cara tiap orang berpikir yang mana pasti berbeda-beda. Cuma jujur cranky aja lama-lama, apalagi sampe merambat (tumbuhan kali ah #krik) ke pertanyaan semacam,

“Foto profil WA lo kok black and white gitu, ga kenapa-kenapa kan lo?”

Are you okay, Far? Matanya keliatan sendu di foto”

Duh duh duh, aku kudu piye…

Tentu aku yakin bukan cuma aku yang pernah mengalami hal kayak gini. Aku masih bingung aja sih secara I’m no one, artis bukan, public figure bukan, da aku mah hanyalah remah-remah gorengan :/ Tapi kesannya kudu mesti banget menandakan aku baik-baik saja dengan rajin update di media sosial atau pasang foto senyum merekah–sekepalan tangan bisa masuk (udah ga jaman tiga jari mah) heu~

Sabar Far, sabar..

Jadi awalnya aku ngelakuin social media detox aja. Buat aku pribadi, dulu aku ngerasa media sosial itu jadi hal yang candu buat aku khususnya Instagram yah. Oleh karena itu, dari beberapa bulan terakhir aku memutuskan untuk sedikit banyak “nge-rem” pemakaian media sosialku. Mulai dari log out akunnya, sampai uninstall, sekarang-sekarang sih udah di-install lagi ya cuma udah jadi kebiasaan aja menikmati hidup tanpa media sosial.

phone

Bukannya ga buka sama sekali atau ga update sama sekali. I did it few times.. Cuma kalau dibandingin dulu waktu lagi candu-candunya tuh bisa dibilang tiap hari kali ada aja yang di-posting. Kalau sekarang lebih ke buat appreciate moments atau purely for fun.

I’ve been taking everything for granted. Well, it’s sad to realize that in my whole life up ‘till now, I feel like I haven’t done many things yet to the environment or my surroundings. Dari ga bergantung sama media sosial, bahkan gadget yah.. Aku merasa banyak hal yang belum kulakukan maksimal. Dulu yah aku sempet mikir bisa gitu yah jaman sekarang orang hidup tanpa gadget, ya ponsel deh contohnya? I did it! Ya bisa ternyata. Ya tapi ga bisa lama-lama sih, dalam artian berhubung aku perlu berinteraksi yah sama orang kantor misalnya, ya jadi bisa bebas tanpa ponselnya pas weekend.

How does it feel? Peaceful! Monggo bilang kalau aku lebay.. Tapi itu yah genuine feeling-ku kok. Aku bisa fokus ngelakuin hal-hal lain yang sifatnya engaging sama sekitar secara langsung dan ya sampe akhirnya aku ngerasa belum banyak yang aku lakuin ternyata buat lingkungan misalnya.

Orang hidup harus selalu cemas, bertanya, agar dia bisa terus bergerak.

No gadget (handphone, laptop, tablet, etc), makes me think a lot! Like, a REAL lot! Selama ini apa sih yang pengen aku lakuin buat hidup? Berapa banyak waktu yang aku buang di hidupku buat sekedar chat “haha hihi” atau scrolling timeline sana-sini tanpa ada tujuan berarti? Aku selalu merasa 24 jam itu kurang dan our time is running out. Ketika aku melakukan “puasa gadget” ini banyak hal yang bisa kulakukan dan menyenangkan.

Several things that I do to spend my “happy” times without gadget nor social media:

  • Traveling
    (from planned and unplanned trip with a short and a long trip)
  • Learning Mandarin
    (sampai ambil kursus juga meskipun pernah belajar pas kuliah)
  • Drawing
    (dari pakai pensil, pulpen, sampai cat air–menyusul cat minyak)
  • Reading books
    (baca buku fisik dari yang fiksi sampai ke non fiksi)
  • Socializing–face to face
    (sama siapapun, entah yang udah dikenal maupun baru)
  • Writing
    (puisi, cerpen, novel yang ga kelar-kelar, random things like this blog)
  • Adding life-goals
    (banyak mikir berdampak banyak nyatet hal-hal yang mau aku raih)
  • Sleeping well!
    (penting banget biar badan selalu fit)

I’m enjoying my life, nowadays.. Semoga menjawab pertanyaan orang-orang belakangan ini tentang kenapa jarang posting (terus mikir “emang gue sape sih ahelah malih!”)

Oh ya, buat masalah foto profil black and white atau mata kelihatan sendu, bebas deh kalian mau mikir apa bingung juga jawabnya karena kalau foto jujur ga ada tujuan apapun. Lebih ke-“ya gue lagi pengen aja”. Besok-besok kalau lagi lelah dan mutusin ga pake foto profil pasti dibilang “Lo galau yah?” Huft! Kalau udah kayak gini, aku rindu sekali telepon rumah yang ga pake ribet-ribet ngeliatin muka, atau mikirin kenapa orang ini bales chat pendek-pendek.

Semakin canggih media komunikasi, justru semakin membuat penggunanya mengalami miskomunikasi. Ironis!

Ya intinya sih kalau kamu mau coba nih mengurangi pemakaian media sosial kamu atau bahkan puasa “no gadget”, harus “istiqomah” alias komit sama apa yang kamu lakukan yah gengs. Pasti banyak cobaan dan badai menerpa seperti gatel kepoin gebetan, mantan, atau pasangan mungkin? LOL! Atau juga godaan kanan-kiri dari orang-orang yang “nyinyirin” kamu juga bisa.

Udah ah makin ngelantur..

Aku sudah lebih lega dan puas sekarang *nyengir kuda*

Semoga tulisan ini tidak menyinggung hati siapapun yah karena sejatinya tidak ada maksud apa-apa kok. Pun kalau ada yang ga terima, semoga ikhlas memaafkan ketidaksempurnaanku sebagai manusia ini. Kalau ga juga yasudah~

Wassalam! Adios! Ciao!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s