Berdamai dengan Masa Lalu

Berhenti membenci masa lalu!

After countless of fights with myself. After millions questions I wonder what went wrong between us, I realize… Some people grow together, some grow apart. And there’s nothing we could do to fix it.

We all know, life is full of “shit-happens”. Setuju kalau ujian itu diberikan untuk “level-up”, because problems shaped me well. Hal itu pun yang membuatku jadi lebih siap menghadapi hidup–di mana lebih baik bertumpu kepada pencarian solusi ketimbang manja dan lemah ketika dihadapkan dengan masalah.

Lalu, Aku bertanya ke diri sendiri: apa motivasi terus membenci sesuatu atau seseorang? Memangnya ga cape? Entah sejak kapan aku mulai membenci kedua orang tuaku. Kadang aku bahkan (menolak) lupa orang tua “biologisku”–I know it’s rude! Tapi beberapa waktu belakangan ini aku mulai berpikir apakah nantinya aku ga menyesal kalau mereka sudah ga ada di dunia ini? Pertanyaan semacam ini mulai melunturkan hawa benciku. Tetapi, aku juga belum bisa memaafkan, merelakan, apalagi melupakan perlakuan mereka selama ini khususnya di masa kecilku. I need an explanation. I need to see from their perspectives.

Sebenarnya hal ini muncul disebabkan oleh salah satu orang terpenting yang ada di hidupku–he gave me an advice to my problem. Intinya, aku ga bisa terus-terusan menjustifikasi mereka dari sisiku saja, aku harus mencoba mengerti dari sisi mereka. Oh man, seriously?

Manusia itu memang kodratnya terlahir penuh dengan rasa tidak puas dan cenderung egois. Selama aku berjarak ratusan kilometer jauhnya dari rumah, dari orang-orang terdekat, selama itu pula aku seringkali memikirkan tentang keegoisanku sebagai manusia. Mungkin juga karena “tamparan” dari orang terdekatku yang berkata, “Coba deh kalau kamu posisikan diri kamu di atas sepatu orang tuamu? Ayahmu? Mamamu? Mungkin pada dasarnya mereka perlu perlakuan lain dari kamu, kepedulianmu misalnya. Sampai kapan mau membenci?”

Saat itu, sebagian besar egoku menolak dan menafikan perkataan tersebut. Untuk apa aku harus berempati kalau mereka pun seakan tak peduli. Namun sebagian kecil dari diriku meyakini untuk tak ada salahnya mencoba mengubah sudut pandangku tentang mereka.

It was a damn hard! Cuma sekedar tanya kabar saja sesulit itu, kawan! Bayangkan, aku sudah terlalu lama tumbuh tanpa mereka lalu sekonyong-konyong waktu berbicara, lalu ruang terdalam logika dan hatiku mulai bersekongkol untuk “mendekatkan” diri dengan mereka. Konyol! Tapi hidup ini memang penuh lelucon kok…

Hasilnya? Surprisingly, it works! I can’t tell you in details, but it really works! Perlahan aku bisa memperbaiki semua “kesalahpahaman” yang ada. Mungkin masih banyak pertanyaan dari masa lalu yang belum terjawab, namun kubiarkan waktu yang menjawab semuanya. Aku percaya hal baik tidak pernah datang terburu-buru.

Berdamai dengan masa lalu sangatlah sulit dan sungguh mustahil melupakannya (kecuali kamu amnesia). Tapi percayalah, membenci itu berkali-kali lipat melelahkan dan hanya menambah beban hidup saja. Semua hal memang perlu proses, namun tidak pernah salah untuk mencoba mengubah sudut pandang kita akan suatu hal. Pasalnya, bukan jadi soal siapa yang benar atau salah melainkan sejauh mana kita mau berdamai dan menjaga hidup kita agar minim beban.

Selamat mencoba! 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s