Kembali

Menikmati luka
Berpura suka
Namun tetaplah lihat suar
Agar arahmu tak jadi samar

Mantra puisiku yang terus melekat dalam pikiranku selama lima tahun ini.

***

Aku menatap nanar kepada anak lelaki kecil bersepeda biru yang baru saja menabrakku di jalan. Gusar itu kembali datang saat anak itu mengaduh dan meminta maaf dengan gaya bicara cadelnya.

“Ma.. Maaf tante. Dion ga sengaja nablak tante.”

Aku menunduk sambil memegang lututnya dan lengannya yang lecet akibat jatuh. Sontak, aku tidak bisa mengalihkan perasaan iba meskipun memori lamaku kembali muncul.

“Ah kamu gapapa? Tante gapapa kok. Kamu juga ga sengaja kan nabrak tante. Coba sini tante lihat lukamu.”

Aku melihat lutut dan siku kanannya tergores karena menopang tubuh kecilnya. Kira-kira ia sepantaran dengan…… Ah, apa yang coba kupikirkan. Aku tidak boleh kalah dengan masa lalu.

“Sebentar yah, tante bawa obat merah dan plester. Sini tante bersihkan dulu lukanya.”

“Aduh..” Ia meringis hanya sekali, namun dengan berani aku melihat dia menahan lukanya seperti menangis artinya melunturkan harga dirinya. Anak ini kuat.

“Makasih tante. Tante lumahnya dimana? Lumah Dion yang pagar abu-abu itu.”

Anak kecil itu menunjuk rumah kedua yang ada di dekat kami. Rumah itu…..

Tidak lama, keluar laki-laki dari rumah berpagar abu-abu. Parasnya….. Persis ketika lima tahun lalu aku melihatnya di meja operasi.

Berarti anak ini….

Anakku yang secara paksa dipisahkan olehku tepat setelah aku selesai berjuang dengan persalinanku dulu.

“Hai.. Kamu datang juga. Sudah 5 tahun yah.”

“A.. Aku….”

Aku tak punya cukup tenaga untuk menyambut kata-katanya yang selalu terasa hangat.

Dia memahamiku lebih dari diriku sendiri. Seraya mendekat ke arahku, ia menatap lekat ke arahku.

“Aku minta maaf. Atas nama Almarhumah Ibuku, sebelum ia menghembuskan nafasnya kemarin, ia meminta pengampunanmu karena memisahkan kamu dengan Dion. Ia memintamu untuk kembali. Maukah kamu……”

Kalimatnya belum selesai. Dadaku terlalu sesak, dan dalam sekejap aku sudah kembali ke rangkulannya. Bebanku selama ini sirna sudah.

Pahat Sepasang Angsa Ragunan

Aku kembali.

Buah dari segala ikhtiar dan kepasrahanku.

Aku kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s