Hidup Seimbang dengan Social Media Detox

Sebagian besar orang di luar sana juga pasti mengetahui dampak negatif dari menggunakan media sosial (medsos) berlebihan, namun alih-alih mengobati mereka justru cuek. Lantas, yang aku lakukan ketika menyadari tanda-tanda “jenuh” dengan medsos ini ialah dengan memutuskan untuk melakukan social media detox. Jadi tujuannya buat menghilangkan racun-racun penyakit hati yang muncul karena kecanduan media sosial–khususnya instagram.

Ga langsung uninstall media sosialnya dari hp sih, tapi coba untuk rutin ga lihat medsos sama sekali beberapa hari dalam seminggu. Kenapa? Lama-lama aku merasa muak dengan apa yang ada di medsos dan sangat ga sehat–at least for me. Kadang aku salut banget masih ada orang yang ga update sama berita-berita terbaru yang sedang heboh diperbincangkan warga net. Mereka bisa memfilter dirinya dari hal-hal yang sebenarnya ga penting-penting amat untuk diketahui.

Coba deh tanya sama masing-masing dari diri sendiri berapa banyak medsos yang kamu punya? Instagram? Facebook? Twitter? Path? Snapchat? You named it! Seberapa sering kamu mengecek medsos setiap harinya? Ngerasa ga update ga sih kalau sehari aja ga dibuka? Kalau jawaban kamu iya, Fix! Medsos bikin kamu candu!

Sekitar tahun 2010-2011 ketika Facebook sedang merangkak naik, kala itu aku di bangku perkuliahan sangat menggandrungi ini (meskipun sudah mulai membuat sejak 2009). Jauh meninggalkan Friendster, Facebook dengan konsep yang sama bisa menjadi pioneer di masanya. Bersamaan dengan itu, twitter pun menjadi alternatif mikro-blog, di mana siapapun bisa keluarin “unek-unek” mereka sebatas 160 karakter saja! Iya. Semacam sms yang dikirimkan sama siapapun yang follow laman kita. Kadang kalau dipikir-pikir lucu juga, lapar malah update bukannya makan, marah sama dosen pun update seakan dosennya baca, bahkan suka sama orang ga menutup kemungkinan update juga. Seakan ga ada ruang untuk privasi. Aku pernah di masa itu. That’s a kinda silly thing I’ve experienced. But it was fun!

Di 2012-2013 Path menjadi salah satu opsi lain. Di mana kita bisa kasih tau sama orang-orang di luar sana kita lagi di mana dengan fitur check in. Padahal efeknya mungkin ada orang jahat di luar sana yang bisa ngikutin kita? Ga heran juga sih akhirnya ga sedikit loh muncul kasus penculikan yang datangnya dari sini. Lalu mulai muncul Snapchat, di mana dengan video berdurasi kira-kira 10 detik kita bisa infoin ke orang-orang aktivitas kita.

Ga berhenti sampai situ, karena Instagram pun menjadi salah satu tren. Di tahun 2012 belum banyak penggunanya, tapi para photo-hunter mulai memanfaatkan fitur ini untuk mengabadikan karya mereka di sini. Baru mulai booming tahun 2015 hingga sekarang karena semakin maraknya selebgram (selebriti Instagram). Ga perlu lagi muka kece atau jago akting dan muncul di layar kaca buat jadi seleb. Pasalnya, dari Instagram pun bisa bikin kamu beken kok. Tinggal pinter-pinter aja buat komposisi foto menarik dan caption yang oke. Oh iya, plus hashtag (biar bisa dicari sama siapapun orang di luar sana).

Instagram didapuk sebagai media sosial yang memiliki dampak buruk paling besar untuk kesehatan mental anak muda berdasarkan Royal Society for Public Health (RSPH) loh.

Kalau ditarik benang merah dari semuanya, inti platform medsos tersebut tuh apa? Lama-lama fungsi “entertain” nya bergeser jadi ajang pamer? Prestige? Gimana ga, banyak kok berita-berita yang miris. Misalnya si X demi mengikuti gaya selebgram favoritnya rela mencuri uang orang tuanya, atau kayak kasus agen travel umroh yang lagi santer terakhir di pemberitaan Indonesia yang mengambil uang para calon jamaah umrohnya buat memenuhi kebutuhan hidup sosialita semata? Believe me, that’s all of the effect from our social media! So cruel!

Kita yang mengatur dunia, bukan dunia yang mengatur kita.

Others may not have the same privilege as you.  Jadi ga usah deh ngukur gaya hidup satu sama lain cuma dari ngeliat medsos-nya kece, mereka pakai barang branded apa, jalan-jalan kemana, ujung-ujungnya jadi sirik, dengki, dan tergerak untuk “memaksakan” gaya hidup yang sama–padahal mungkin ga bisa. Coba analoginya gini, kita lihat selebgram pakai barang branded, lantas apa kita harus memaksakan punya juga kalau memang ga bisa? Terus kalau udah punya, ada jaminan kita jadi selebgram juga? Daripada uangnya dipakai foya-foya untuk memenuhi “standard” kece yang kita ciptain sendiri, ya mending buat hal-hal bermanfaat lainnya, contohnya: Buat les sebagai ladang investasi masa depan; Traktir keluarga kita hitung-hitung bahagiain mereka; Nabung nikah buat yang katanya pengen nikah tapi biaya nikah makin mahal; Kasih ke orang-orang yang membutuhkan contohnya anak yatim-piatu atau fakir-miskin sebagai bentuk ladang pahala, dll.

Tapi ga bisa kok dipungkiri, era globalisasi dan digitalisasi sekarang memang menuntut hidup untuk jadi “melek media”. Hal konkretnya ialah, udah ga jaman lagi yang namanya marketing konvensional, tapi lebih kepada digital marketing. It’s good and efficient. Daripada berkoar-koar sambil nyebar-nyebar pamflet yang ga ramah lingkungan dan buang-buang kertas, lebih baik sebar soft-file nya ke lini media seperti Facebook, Instagram, Twitter, dll. Ga di satu area aja yang kena, dari Sabang-Merauke, bahkan seluruh dunia juga bisa tahu kok kalau kita tepat menggunakannya.

There’s still a good effect though! But……

Let’s do self-reflection. Do we wise to use our social media?

Jujur, aku udah di fase muak dan enek. Mungkin beda yah kalau selebgram yang memang berprofesi untuk mempromosikan produk-produk atau sekedar menghibur “fans” mereka. Cuma buat aku pribadi, aku jadi mikir dan nanya kalau tiap aku ke mana dan lagi apa itu “harus” update, then where’s my privacy? Semua orang tahu aku lagi ngapain, di mana, sama siapa, etc. Sama juga ketika aku lihat update-an orang lain. I know their activities even though I don’t meet them personally. Terus efek lanjutan dan mirisnya, aku ga ngerasa perlu ketemu lagi atau bahkan chat dan telepon intens mereka lagi, because I’ve known already what’s their current life.

Somehow aku rindu masa di mana kalau mau ketemu orang harus effort sms atau telepon buat janjian. Pas ketemu ga sibuk foto-foto tapi purely talking to each other. Then, to boost my kind of gloomy things with this digital era, aku mutusin perlu ngelakuin social media detox ini khususnya buat Instagram–platform yang paling sering aku buka.

Di tahun 2017, para peneliti dari Universitas Pittsburgh bertanya pada 1.700 orang dengan rentang usia 18- sampai 30-tahun mengenai kebiasaan menggunakan media sosial dan tidur mereka. Para peneliti menemukan sebuah kaitan gangguan tidur dan menyimpulkan bahwa cahaya biru merupakan salah satu penyebabnya. Datangnya dari mana? Dari seberapa sering mereka login media sosial dengan ponsel mereka. Hal ini merupakan salah satu penyebab gangguan tidur yang menunjukkan sebuah sikap “pengecekan (media sosial) yang obsesif”, seperti dijelaskan oleh peneliti.

Jujur, aku udah lama ngelupain baca buku fisik sebelum tidur dan beralih ke main ponsel. Buat apa? Sekedar lihat-lihat Instagram, baik itu postingan foto maupun Instastory. Dari yang niatnya “ah 5-10 menit deh buka”, tanpa disadari berakhir lebih dari satu jam. Tidur larut malam, harus bangun pagi besoknya dan yang dilihat lagi-lagi Instagram. Pusing? Iya. Kurang tidur! Ga sehat kan?

Tujuan social media detox untuk aku pribadi bisa dibilang “Disconnect to Reconnect”. Biar tahu “real-society”-nya. Biar kembali ngerasa punya privacy and do not let public knows every details of me. Poin terpentingnya, supaya bisa memanfaatkan waktu dengan lebih bijak. Daripada kepoin aktivitas orang-orang di luar sana berjam-jam, mungkin bisa melakukan hal produktif lainnya yang lebih bermanfaat.

Kalaupun mau “kembali” ke media sosial, lebih baik create something positive, attractive, and inspiring others. Kalau selama ini kerjaannya baca, nonton, coba deh mulai belajar menulis konten yang positif. Upload foto atau video yang lebih berfaedah. Pikir berjuta kali setiap akan upload media di internet, karena sekali sudah muncul, selamanya akan di sana.

Seseru apapun dunia maya, sebagian besar hidup kita seharusnya ya ada di dunia nyata.

Mungkin buat yang ngerasa metode kayak gini ekstrim, bisa ngelakuinnya dengan membatasi penggunaan media sosial kamu maksimal 2 jam perhari? Trust me, it’s surely good for your mental health and soul.

I didn’t say that social media is bad for us. Banyak juga kok manfaat yang bisa didapat dari punya dan lihat media sosial. Contohnya, bisa dapat informasi dan motivasi; bisa jadi alat atau sarana untuk memperluas pasar bisnis dan ekonomi; bahkan menjadi cara untuk membangun komunitas dan relasi. See? I still can see the good sight using social media. Cuma ya, harus tahu aja batasan penggunaannya dan buat itu menjadi hal yang seimbang di hidup kita. Jangan sampai jadi “budak media sosial” yah! 🙂

2 thoughts on “Hidup Seimbang dengan Social Media Detox

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s