Satu dari Aku

Aku bertemu kembali pada peraduan senja.
Ia menyapaku dengan semburat jingganya.
Lebih kusambut ketika ia mulai mengabur berganti menjadi pekat malam.
Tempat nyamanku, ketika aku perlu untuk sekedar menjadi soliter.

Siapa yang berani persalahkan kesendirian?
Memberikan ruang hanya untuk aku yang biasa.
Beberapa saat.
Tanpa yang lain.

Hingga saatnya bertandang,
hanya biarkan aku melantunkan senandung
di bawah temaram purnama.
Satu terpapar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s