Battling with Body-Shaming

Masih ga abis pikir sampe sekarang kenapa stereotype cantik di Indonesia itu: putih, langsing, tinggi semampai, rambut panjang, hidung mancung, ya macem mannequin gitu deh. Eh, sorry ralat.. Mannequin ga punya rambut yah alias botak? Hahaha.

I don’t think I’m ugly nor do I think I’m pretty. I don’t like putting fancy label on myself. But anyhow, ga munafik yah kalau sebagai perempuan yang berada di tengah-tengah stereotype cantik di Indonesia seperti yang disebutin sebelumnya, I feel insecure with my own-body. Istilahnya sih ya takut kena Body-Shaming.

Apa sih Body-Shaming? Menurut kamus Oxford, Body-Shaming merupakan tindakan atau praktik mempermalukan seseorang dengan membuat komentar mengejek atau kritis tentang bentuk tubuh, ukurannya, intinya yang bersifat fisik.

Contohnya nih ya,
“Gendut deh”
“Lo item yah”
“Coba lo tinggi”
“Duh sayangnya idung lo ga mancung”
and so many nasty things that will put us down to level ground!

Mungkin beberapa melakukan ini tanpa ada maksud tertentu alias bercanda yah, tapi tanpa mereka sadari juga orang yang kena perlakuan ini bisa jadi ga percaya diri loh. Efek lanjutannya mereka akan melakukan Body-Shaming ke diri sendiri juga.

Kenapa sih perempuan mikirin hal-hal kayak gini, including me? Karena disadari atau ga, seringkali orang-orang khususnya laki-laki di luar sana menjadikan perempuan sebagai objek (sorry if you’re not one of them). But let’s be honest. Apa sih yang dilihat sama laki-laki pertama kali? Penampilan perempuan dong! Jadi ga usah heran kalau banyak perempuan yang akhirnya sibuk diet, dandan, dan ekstrimnya bisa sampai operasi plastik! There’s something wrong with this kind of shitty-thing! Lama-lama aku mikir semua kegilaan ini ga sehat. Mau sampe kapan sih kita sebagai manusia memperlakukan diri sendiri untuk kepuasan orang lain semata?

Kadang buat hal-hal yang sifatnya udah bawaan dari sananya kayak warna kulit, ukuran hidung, mata, apapun itu yang memang dari lahir udah seperti itu ya mau gimana lagi? Suka ga abis pikir sama orang-orang yang ngomong–sorry to say, ga pake otak kayak gitu. Ga ada apa kepikiran sama orang-orang kayak gitu kalau emak bapaknya berkulit gelap masa anaknya “dipaksa” untuk berkulit terang? Banyak hal yang ga masuk akal.

But anyhow, I felt that. Di mana dulu aku ngerasain banget rasanya aku selalu ga puas sama fisik sendiri cuma perkara mikirin ocehan ga bermutu orang-orang. Akhirnya aku sampai di satu titik di mana aku muak dengan semua Body-Shaming ini, apalagi itu datangnya dari orang-orang yang tadinya menerima aku apa adanya, then at some points they Body-Shamed me. It irritates me A LOT! Awalnya aku sampai depress loh sampai mikir berkepanjangan kayak,
“Coba kalau bisa putih”
“Coba kalau langsing”
“Coba kalau punya hidung mancung”, and so on..

Lama-lama aku cape mengikuti maunya orang lain yang ga bikin bahagia sama sekali. Then I figured out another perspective kalau banyak kok perempuan di luar sana yang bisa genuine sama diri mereka and embrace everything inside them tanpa mikirin orang lain. What’s the result? Ultimate happiness!

We are what we think. Kita ini adalah definisi dari apa yang kita pikirin. Berpikirlah kamu cantik, seperti apapun dirimu.

Kita mungkin ga tahu kalau perempuan-perempuan yang kita anggap cantik, as example para model majalah yang mirip mannequin itu juga bisa krisis percaya diri loh. The point is, kita semua berada di perahu yang sama, dan kenyataannya sama-sama “rapuh”. The same thing between us is, kita senang membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang mana itu bisa membuat kita tersiksa.

Then how can I deal with this Body-Shaming issue? Buat aku pribadi, aku udah ga mau lagi menghabiskan waktu dengan cape-cape menghakimi atau berkomentar negatif sama orang lain tentang fisik mereka dan banding-bandingin sama diriku sendiri. Lupain deh perilaku merasa diri sendiri lebih tinggi dengan merendahkan orang lain yang tujuannya supaya kita merasa lebih baik. Never use that way! Cara menghargai tubuh bukan dengan compare ourselves to others. We just need to be focus on our body, our own happiness.

So, buat orang-orang di luar sana yang hobinya nyinyir kayak,
“Eh lo ga mau diet biar langsingan?”
“Eh lo ga mau nyoba suntik putih atau luluran tiap hari kek?”
Please c’mon guys. Stop it! Berhentilah ikut campur urusan hidup orang lain. Hidup udah susah, ga usah saling bikin tambah susah lagi lah. Miskin faedah cuy!

Novelis Inggris, George Orwell, lewat novelnya 1984 berteori bahwa seorang individu tidak mungkin menginginkan ‘kemerdekaan’ jika mereka tidak pernah mendengar kata ‘merdeka’. Sama kayak konsep merasa merdeka untuk diri sendiri dengan menghargai badan kita seutuhnya. Intinya sih kalau memang mau merawat diri, menjaga diri, membuat badan lebih sehat, lakukan semua itu bukan karena kita punya benchmark atas orang lain. But on top of that, because we really deserve it!

Wanita boleh hebat, asal bisa membatasi diri kalau mau dicintai.

Aku ga bilang yah kalau diet itu salah, dandan salah, suntik putih/vitamin C salah, operasi plastik salah. Not at all! But we need to find the meaningful reason behind that. Tubuh kita adalah aset di masa depan, so love our body as well. Jangan biarkan nilai diri kita diukur dengan standar yang ditetapkan orang lain 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s