Ruang antara Kopi dan Traveling

“Jadi, mana yang kamu pilih? Kopi atau aku?”

“Mana yang kamu pilih? Traveling atau aku?”

Keduanya terdiam sejenak lalu saling melemparkan senyum satu sama lain.

“Kalau gitu, aku mau kita traveling bareng biar kamu bisa rasain kopi di tiap penjuru.”

“Deal! Jangan pernah kasih aku pilihan seberat tadi yah. Tapi, kalaupun memang harus, aku pasti akan pilih kamu. Karena aku tahu kamu ga akan merelakan aku pisah dari kopi kan?”

“Geer kamu!”

Segelas kopi single origin vietnam drip yang sudah hampir habis itu diangkat dari meja dan mulai diteguk kembali oleh Gamma.

“Aku cinta banget sama kopi. Jauh sebelum aku kenal sama kamu.”

Omongannya terhenti seketika sambil menatap gelas kopi yang telah kosong di depannya.

“Lalu sekarang?”

“Masih cinta sama kopi. Tapi aku ga pernah bayangin kalo ga bisa bareng kamu lagi.”

“Gomb….”

Lintang belum menyelesaikan kata-katanya, Gamma beranjak dari kursinya dan berlutut tepat di sebelah Lintang sehingga membuat Lintang mengubah posisi duduknya agar bisa menghadap lelaki yang berbeda 3 tahun lebih tua darinya itu.

“Lintang Adisa Putri, will you be my endless partner in life who I really love more than any coffees in the world?”

Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran Lintang hari ini akan datang begitu cepat. Gamma, orang terdekatnya selama satu tahun belakangan ini ada di hadapannya dengan menyodorkan benda kecil melingkar yang menunggu masuk di jari manis Lintang.

“Is it for real, Gamma?”

“Could it be wrong, Lintang? Perlu berapa lama lagi waktu yang aku sia-siakan untuk menjadikanmu Istri dan Ibu dari anak-anak kita nanti?”

“Yes, I definitely do Gamma!”

Cincin itu terpasang sudah di jari Lintang.

Gamma dan Lintang tidak perlu banyak waktu untuk berpacaran, karena memang mereka tidak pernah melakukannya. Mereka tidak perlu status tersebut selama ini. Satu hal yang sama-sama mereka saling tahu selama satu tahun belakangan ini, mereka saling membutuhkan. Saling candu. Sama seperti Gamma dengan kopi dan Lintang dengan traveling. Mereka saling mengisi ruang antara kopi dan traveling.

Sore hari itu, salah satu kedai kopi di Surabaya– tempat pertama kali mereka bertemu, menjadi saksi bisu sebelum secara sah memulai kisah baru di hidup mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s