Garis Hidup

Hidup itu penuh suka duka, dan ga ada satu orang pun yang bisa memilih mau dilahirkan di keluarga seperti apa. Toh kita terlahir seorang diri dan akan mati pun seorang diri. Keluarga adalah “titipan” ketika kita di dunia. Apa yang bisa kita lakukan? Berbuat sebaik mungkin di hidup ini untuk mendapatkan balasan di kehidupan setelahnya (baca: akhirat) kelak.

Dulu, aku selalu malu menghadapi kenyataan kalau keluargaku jauh dari gambaran keluarga ideal pada umumnya. Seringkali aku lelah setiap orang bertanya kenapa aku tinggal dengan Kakek Nenek dari Ayahku sejak umur 2 tahun bukan dengan orangtua dan juga Adikku? Atau kenapa aku begitu dekat dengan Tanteku selayaknya Ibu Kandungku sendiri? Sebegitu anehnya? Banyak hal yang sulit aku jelaskan dan aku rasa tidak perlu penjelasan lebih dalam.

IMG01541-20110415-1346
Ini aku sama nenek waktu umur 2 tahun (?)

Ga banyak orang yang tahu tentang keluargaku, aku rasa pun ga penting kok mereka tahu. Namun kali ini aku akan menceritakan sedikit bagian dari keluargaku. Kalau banyak anak perempuan di luar sana yang menyatakan Ayah adalah “cinta pertama” mereka, maka tidak denganku. Aku bukan bagian dari anak yang mengidolakan Ayah mereka. Kenapa? Karena ga tinggal dari kecil? Salah satunya. Tapi banyak juga kok orang yang jauh dari Ayah mereka tapi masih tetap menjadikan Ayah sebagai sosok yang mereka kagumi.

Dibandingkan Ayah, aku jauh lebih mengangkat topi untuk Kakekku yang sudah kuanggap seperti Ayahku sendiri. Ga heran aku menyebutnya “Papa”. Aku ga mau cerita banyak alasan-alasan di balik itu. Cukup sulit buat aku untuk bisa menggambarkan apa yang aku rasakan, tapi aku ga merasa Ayah dapat menjadi sosok yang kubanggakan. Alih-alih marah, mungkin aku lebih merasa kecewa karena aku ga punya banyak memori baik sama Ayah. Dirinya hanya jadi sosok yang kutakuti sedari kecil.

Ayah bisa sangat marah cuma karena hal yang menurutku “sepele”. Ayah perokok berat. Pemabuk. Keras. Setakut-takut dan ga sukanya aku sama Ayah, ada satu momen yang masih terekam jelas diingatanku hingga saat ini dan aku sangat menyukai momen itu. Satu-satunya memori keluarga bahagia yang aku punya dengan Ayah dan Mama.

Kira-kira aku kelas 3 atau 4 SD–aku lupa tepatnya, itu pertama dan terakhir kalinya (hingga aku menulis postingan ini) aku merasa memiliki satu keluarga yang utuh. Aku, Ayah, Mama. Hari itu kami pergi ke taman bermain, Taman Ria namanya–sekarang udah ga ada 😦 Aku ingat betul betapa aku sangat menikmati tiap wahana yang ada. Memakan kembang gula dan berondong jagung bertiga menjadi hal sederhana yang akhirnya bisa kulakukan bersama orang tua kandungku. Setakut-takutnya aku dengan Ayah, aku tetap bahagia ketika aku bisa berpegangan tangan di tengah-tengah dengan Ayah dan Mama saat itu. Ini menjadi satu-satunya memori hangat yang aku rasakan. Kami lelah setelah menghabiskan seharian di taman bermain. Aku tahu bukan hanya aku yang lelah. Namun karena aku mengantuk, Ayah menggendongku di belakang pundaknya. Hingga sekarang aku ingat betul begitu amannya aku saat itu. Aku nyaman dengannya saat itu (berusaha nyari foto lama waktu di Taman Ria tapi ga ketemu albumnya sampe sekarang :”)

Mungkin dulu aku selalu menyalahkan keadaan. Kenapa aku ga bisa terus-terusan sama mereka? Kenapa aku harus sama Kakek, Nenek, dan Tante-tanteku? Namun semakin aku mencari tahu, berakhir dengan aku semakin membenci orang tuaku. Dan itu sangat ga baik. Banyak hal yang membuat aku kecewa dengan Ayah dan Mama–yang aku rasa ga perlu aku sebutkan di sini. Tapi jauh di lubuk hatiku, terlepas dari apapun yang mereka lakukan, aku menyayangi mereka.

“Sesungguhnya kau tidak dapat memberi petunjuk orang yang kau cintai, melainkan Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. [Qs. Al-Qasas: 56]

Apapun yang terjadi di keluargaku, aku hanya bisa berusaha semampuku. Karena hanya Allah lah yang mampu membolak-balikan hati manusia termasuk orang tuaku. Apapun tanggapan skeptis orang lain, ga ada yang tahu benar bagaimana berjuangnya aku dengan hidupku.

Aku yang sekarang mulai dengan bangga bisa mendefinisikan kesuksesan dan kebahagiaan versiku sendiri melalui garis hidupku. Di mana kedua hal tersebut bisa didapat dan dirasa ketika aku tahu caranya bersyukur. Mantra yang selalu aku ucapkan ialah “Nikmati prosesnya, Far. Syukuri tiap jalannya!” Hal penting lainnya ialah aku perlu berdamai dengan diri sendiri bukan terus-menerus menyalahkan orang lain. Mungkin belum banyak yang bisa kukantongi dari pelajaran hidup, namun yang aku yakini saat ini Farah versi sekarang jauh berbeda dari versi SMP / SMA / kuliah dan semoga akan terus bertambah menjadi lebih baik 🙂

Little Farah Liany
Hi! Dapet salam dari Farah 1 tahun. This cake is mine. Sorry!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s