Antisipasi Kekecewaan dengan Formula Kebaikan

Ga semua hal bisa terjadi sebagaimana keinginan kita. Ketika ada hal terjadi di luar apa yang kita mau, kita harus bisa menerima dan menghadapinya dengan bijaksana. Klise sih statement kayak gini, but it’s true.. Karena kalau ga, ya kita ga akan pernah belajar apa-apa dari hidup ini. Jadi orang yang sangat merugi!

Kayaknya ga cuma aku kok yang pernah mengalami fase ini. Manusia manapun aku yakin 100% pernah merasakan kecewa dalam hidup, yang mana ya kodratnya hidup itu naik dan turun. Iya. Kadang kamu merasa lagi happy banget, tapi di detik berikutnya bisa dengan mudah merasa sangat sedih. Wajar. Nah, siapa bilang mewaraskan pikiran ketika kita lagi merasa kecewa dan di titik terbawah itu mudah? Ga ada! Kalaupun ada, aku penasaran apa formulanya?

Bukan sekali dua kali aku merasakan sedih dalam hidup. Buat yang mengenal aku, mereka akan tahu masa-masa sulitku. Tapi siapa peduli? Orang hanya peduli bagaimana kamu menyikapinya, bangkit, udah. Kenapa aku bisa bilang gitu? Karena sejatinya ya ga cuma aku yang harus melewati masa sulit dalam hidup. Sering banget aku merasa kalau ingin mengenal siapa yang benar-benar peduli denganku, ya ketika aku lagi terpuruk. Berapa banyak yang rela memberikan tangannya untuk merangkul, telinganya untuk mendengar, dan empatinya untuk menemani hingga aku bisa bangkit? Bukan sekedar justifikasi atas apa yang menimpaku.

Namun percayalah, baru-baru ini semua anggapan tersebut hilang. Kenapa aku harus peduli dengan berapa banyak orang yang peduli seakan aku bergantung dengan mereka? Sejatinya, pelajaran dari hidup ialah kita ga boleh bergantung dengan siapapun! Sekarang analoginya gini, buatku pribadi.. Mau berapa banyaknya orang di sekitar yang memotivasi ketika aku sedang di posisi terpuruk, tidak akan ada pengaruh berarti kalau bukan dari aku sendiri yang memutuskan untuk bangkit! Adanya peran support-system memang penting, tapi ya bukan itu intinya. Mau seribu kali keluarga, sahabat, bahkan pacar memberikan banyak kata-kata positif, kalau tidak ada keinginan dari kita sendiri ya.. Zero result!

Kembali ke “jangan pernah bergantung sama orang lain” tadi. Belakangan ini aku sedang merasa banyak dikecewakan. Kalaupun aku pointing out ke orang-orang lain, ga ada gunanya. Aku semakin merasa kecewa hingga implikasinya muncul berbagai macam penyakit hati lainnya yang ujung-ujungnya malah menjadi toxic buat diri sendiri. Gimana ga jadi racun, kalau aku cuma bisa menyesali apa yang terjadi, menyalahkan orang lain, dan salah satu hal yang ga baik dalam hidup ialah munculnya self-anger.

Setiap kekecewaanku selalu berakhir dengan perasaan kalau apa yang sudah aku ikhlas’kan kok hasilnya negatif? Jadi kira-kira formula di otak aku:

  • Kebaikan = Keburukan
  • Keburukan = Keburukan

Terus, kalau mau dapat hasil kebaikan apa dong formulanya?

Lalu secara random dan tak terencana ada salah satu hadist yang saya baca berbunyi,

“Jika engkau tertimpa musibah, maka janganlah engkau katakan ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan seandainya dapat membuka pintu untuk syaithon.” (HR. Muslim)

Karena jujur, setiap aku berada di titik terbawah, selalu menjurus kepada penyesalan dan perasaan tidak adil. Iya. Seperti formula yang saya sebutkan tadi di atas. Apapun awalannya, kenapa seringkali aku menghadapi hasil akhir dengan “keburukan” seperti kekecewaan, kesedihan, dan berbagai perasaan negatif lainnya. Ga munafik, aku jadi berburuk sangka / suudzon sama Allah 😦

Namun beberapa hari lalu, seperti di postinganku sebelumnya ketika menyinggung surat Ad-Dhuha di dalamnya, aku menyadari betul bahwa semua pikiran suudzonku sebenarnya dijawab di surat tersebut di mana Allah ga pernah benci atau bahkan meninggalkan hamba-Nya.

Surat ini diturunkan ketika Nabi sedang berputus asa, berkeluh kesah, sedih teramat karena pada saat itu sudah 6 bulan’an wahyu tidak diturunkan oleh Allah.

“Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas.” [Qs. Ad-Dhuha: 3-5]

Aku tidak sereligius itu, namun belakangan ini aku sering mendapatkan banyak jawaban-jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaan yang sudah malas aku utarakan kepada orang-orang melalui banyak hal, seperti ayat-ayat, hadist, atau cerita-cerita tentang agama lainnya yang tidak secara sengaja aku cari tahu.

Saat ini aku sedang merasa hatiku hampa. Kekecewaanku akan bermacam hal yang terkesan berbau pengulangan di hidup ini membuatku merasa “tidak hidup”. Lalu salah satu postingan di facebook muncul di timelineku di mana di situ ada kata-kata dari Imam Al-Ghazali,

“Carilah hatimu di tiga tempat. Temui hatimu sewaktu bangun membaca Al-Quran. Tetapi jika tidak kau temui, carilah hatimu ketika mengerjakan sholat. Jika tidak kau temui juga, carilah hatimu ketika duduk tafakur mengingati mati. Jika tidak kau temui juga, maka berdoalah kepada Allah, mintalah hati yang baru kepada-Nya karena hakikatnya ketika itu kau tidak mempunyai hati!” – Imam Al-Ghazali

See? Ini yang kusebut ga sengaja mencari tahu. Aku merasa “tertampar” membaca itu. Balik ke pertanyaanku akan formula mendapatkan kebaikan di hidup, aku teringat beberapa waktu lalu aku bercerita dengan teman dan mengeluh,

“Padahal udah ikhlas loh, tapi kok yah masih gini rasanya? Ada yang terus ganjal gitu.”

Tahu apa balasan temanku?

“Far, kalau ikhlas ya ga usah disebut-sebut lagi dong. Sama aja kayak baca surat Al-Ikhlas.”

Sebagai seorang muslim selama hampir 27 tahun ini, aku baru menyadari bahwa dari 114 surat di Al-Quran, hanya ada 1 surat yang tidak punya ayat sesuai namanya sama sekali: Surat ke-112, Al-Ikhlas!

Jujur, aku termangu. Selama ini salah satu surat yang menurutku paling mudah dibaca ketika sholat, ternyata mengandung jawaban dari banyak keraguan dan kekecewaanku selama ini.

Dari situ, formula baru muncul. Formula untuk mengantisipasi kekecewaan,

Kebaikan + Ikhlas = Kebaikan

Contoh konkret dan sederhananya, kita ga bisa sekedar membuang sampah pada tempatnya tanpa ada perasaan ikhlas/rela. Buang sampah pada tempatnya itu baik, dan mudah dilakukan. Tapi coba pas buang sampah atau setelahnya kita menggerutu dan tidak disertai keikhlasan hati? Pasti ga lega!

Untuk aku pribadi, gimana dengan kekecewaanku terhadap orang-orang yang katakanlah berbuat tidak baik di hidupku? Forgive! Aku memang belum punya that huge of imaan in me. Anyhow, I’ll try my best to forgive them for Allah.

Seperti surat Al-Ikhlas, di mana ikhlas tak terlihat, tak tergambarkan, tapi terasa di dalam hati. Insya Allah aku tidak akan merasa banyak dikecewakan oleh siapapun / apapun 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s