Menjadi Muslim yang Judgemental Itu Bahaya!

Aku sering banget nemuin pengemis yang kerjaannya ya meminta-minta. Nah, tau ga apa yang selalu kulakukan tiap ada pengemis yang aku lihat atau ada yang terang-terangan meminta-minta langsung sama aku? Kutolak! Kenapa? Karena, bukan rahasia lagi kalau banyak dari para pengemis itu ya cuma ga mau usaha aja buat menghasilkan uang in a proper way dan habis kelar mereka meminta-minta, uangnya mereka pakai buat hal-hal lain, kesenangan yang sifatnya temporer. That’s why… Instead of ngasih uang ke pengemis, aku jujur prefer ngasih ke pengamen meskipun (mohon maaf) suaranya sumbang atau ga ada nadanya sama sekali. At least they have all efforts to get something (baca: uang).

Then, just recently.. Aku dapat ilmu baru. Sesungguhnya sholat melindungi kita dari perbuatan keji dan munkar. Dzikir membuat hati tenang, dan puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu. Tapi, tahukah kamu bahwa sesungguhnya hal yang paling membuat Allah senang ialah sedekah, infaq, zakat mal-mu serta akhlaqul karimah-mu? Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 261-262 disebutkan bahwa ketika kita membahagiakan orang yang sedang susah, Allah hadir disampingnya. Dan Dia akan mengganti dengan ganjaran 100 kali lipat untuk sedekah kita.

Terus aku flashback dong sama segala pikiran-pikiran negatif dan justifikasiku selama ini. Ya ga seharusnya kayak gitu, sama pengemis sekalipun. Intinya, jangan sampai keluar dari mulutmu ucapan yang mengandung penolakan terhadap permintaannya dengan bentakan dan sikap yang buruk, bahkan berikanlah kepadanya apa yang mudah bagimu atau tolaklah dengan cara yang baik dan ihsan. See?? Bahkan sama pengemis pun ga ada yang namanya boleh berlaku buruk loh. Ga ada yang namanya status atau kedudukan dalam Islam dari segi karir misalnya, jadi ga lantas ngebuat aku yang pekerja ini mikir “duh dia kan pengemis, ga bisa apa usaha kerja yang bener?”

Bahkan ada satu ayat lagi yang isinya,

“Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik(nya)”. [Qs. Ad Dhuha: 10]

Terus lantas, apa yang bikin aku atau pemeluk agama Islam lainnya bisa berhak menjustifikasi orang lain? Ga ada! Inti setiap agama sebenernya sama kok: berbuat baiklah terhadap sesama. Udah. Kenapa kita harus saling menghakimi satu sama lain? Yang sedihnya ya masalahnya kalau di Indonesia bukan lagi antar agama aja, tapi satu agama pun bisa saling merasa yang lain paling benar, yang lain salah.

Can we just live peacefully?

Cisarua, Puncak, Bogor

Sebagai pemeluk agama Islam, ga jarang semakin ke sini banyak opini-opini publik bernada negatif tentang Islam. Gimana ga, baru 1-2 bulan lalu aja isu terorisme menjadi berita yang santer terdengar seantero Indonesia. Ya ga lain dan ga bukan gerakan-gerakan / perkumpulan-perkumpulan yang memiliki pandangan Islam yang terbilang “ekstrim”. Kenapa aku subjektif banget bilang ekstrim? Iya dong! Ajaran agama mana sih yang mengajarkan pemeluknya untuk ngebom dan ngebunuh orang-orang yang ga memeluk agama yang seiman dengan mereka lalu diyakini akan membuat mereka masuk surga? Insane!

Aku memang belum atau masih sangat jauh dari yang dikatakan muslim yang taat, namun aku sangat paham betul bahwa agamaku, Islam tidak pernah sekalipun mengajarkan bahwa kita perlu melakukan perbuatan-perbuatan tercela, merugikan orang banyak seperti terorisme itu. Well, aku sangat menjunjung tinggi bahwa tiap pemeluk agama perlu membawa branding atau citra yang baik di diri mereka guna merepresentasikan agama yang dianut. Dan ga ada sama sekali satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan untuk tidak berbuat baik! Sorry to say… Ini hal yang bikin aku miris. Banyak yang berkoar-koar di sosial media, dakwah baik secara implisit maupun eksplisit tentang kebenaran agama masing-masing, namun terselip juga cacian atau hujatan (entah ini dalam keadaan sadar atau tidak yah).

Again, I’m not a perfect Muslim. Tapi dengan ilmuku yang belum banyak ini, setidaknya aku tahu kok kalau mau menyebarkan agama (baca: dakwah) kan ya ga perlu dengan provokasi atau bahkan tindakan-tindakan anarkis dan ekstrimis. Balik ke jaman dahulu kala ketika Nabi diutus untuk berdakwah, kalau saja cara Nabi dengan “memaksa”, lantas aku yakin ga akan banyak yang menjadi pengikut Nabi karena suka cita dan kerelaan mereka pribadi. Gimana Islam jadi ga dicap buruk di mata orang-orang? Padahal, bukan agamanya yang salah. Tapi orangnya!

Buatku, dakwah terbaik adalah dengan perilaku, dan menjadi muslim yang baik adalah dengan tidak menjadi judgemental! Karena ketika kita menjusifikasi orang, kelompok, apapun itu, bukan personal kita saja yang punya imbas. Jauh dari itu, agama kita lah yang bisa tercoreng namanya. Biar bagaimanapun, tiap pemeluk agama merupakan representatif dari agamanya masing-masing.

Jadi, besok-besok kalau aku ketemu pengemis atau siapapun orang yang perlu bantuan dan saat itu aku bisa bantu, aku harus menyingkirkan pikiran negatif untuk berbesar hati membantu semampuku. Namun, kalaupun ga mampu.. Ya aku harus bisa menolak dengan tutur kata yang baik agar tidak ada orang yang tersakiti karenanya.

Is it that hard to live in harmony? At least we need to try. Isn’t it? 🙂

One thought on “Menjadi Muslim yang Judgemental Itu Bahaya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s