Ngapain sih Kerja di Malaysia?

I move to Malaysia dari pertengahan Maret 2018 lah. Statement kayak gini memicu common question yang mulai muak aku dengar, yaitu “Ngapain di Malaysia?” terus kalau udah tahu jawabannya “kerja nih di Malaysia”, pertanyaan lanjutannya ialah “Ngapain kerja di sana? Emang ga ada kerjaan oke di Indonesia?” dan serentetan pertanyaan setipe itulah yah.

IMG_9304

At first, I’m fine. Super fine malah dengan apapun pertanyaan yang orang-orang lontarkan. It’s totally their rights to ask anything to me. Tapi kadang mereka yang nanya juga sering lupa kalau aku juga punya hak buat jawab apa ga. “Yaelah Far, tinggal jawab aja susah banget!” I don’t hesitate to answer ANY questions! But, the major problem is…. habis jawab pertanyaan-pertanyaan itu, seringnya memunculkan implikasi atau stigma-stigma yang tidak jarang arahnya ke negatif terus pointing out to me that I made wrong decision in my life! Kenapa muncul kesan negatif? Sorry to say, most likely karena negaranya. Coba kalau pindahnya ke salah satu negara di Eropa mungkin? Lain lagi kesannya pasti. Ini sih hal buruk dari mostly orang Indonesia yang punya stereotypes ga oke sama Malaysia (I used to be anyway).

Oh please….. Rasanya selalu pengen banget teriak di depan muka orang-orang yang blaming sama keputusanku (baik secara langsung atau sekedar nyinyir atau the worst case is talking behind my back), “You’re NOT walking in my shoes or even LIVE a day in my life.” Terus, apa yang bikin orang-orang bisa menjustifikasi keputusan hidup orang lain?

Sorry if I rant so much through this post. I just want to clearly said, banyak hal yang dilalui tiap orang, also me! Apa yang lagi aku jalani saat ini, tentu setelah melalui berbagai macam ups and downs yang sangat wajar dialami oleh semua orang-orang. For sure, it’s not as simple as others might think. Kenapa aku ada di Malaysia? Karena ya kerja di sini. Kenapa kerja di sini? The simple answer is, working abroad is one of my bucket lists!

Jauh bertahun-tahun lalu (kesannya hidupnya udah lama yah. LOL!) kira-kira pas masih SD lah.. Ada satu film musikal pertama yang masih SUKA sampai sekarang. It was “The Sound of Music” (I insert the link, so maybe you can see what kind of movie it is). Background setting-nya di Austria. Sebenernya ceritanya sederhana sih, tentang kehidupan satu keluarga di Austria, berlatar belakang perang dunia dengan ya tak lain dan tak bukan Nazi. Main point’nya sih waktu kecil film itu berhasil jadi trigger buat aku pribadi untuk kenal dunia lebih luas, ga cuma sama orang-orang yang ngomong pakai bahasa yang sama tapi ya contohnya pakai bahasa Inggris gitu. Intinya, mau ke luar negeri! Udah.

Lama-kelamaan dari yang cuma pengen bisa bahasa inggris, biar bisa nyanyi-nyanyi lucu sampai biar bisa ngomong kayak di film The Sound of Music, jadi beralih ke mau jalan-jalan ke luar Indonesia biar ketemu orang-orang selain Indonesia. Then, mission checked! Bahkan langsung nekat backpacking Vietnam – Cambodia – Thailand – Singapore within 12 days! Ga berhenti sampai di situ, lama-lama aku sampai berdoa loh buat bisa tinggal lebih lama di luar Indonesia (Then it really is happening, now!)

Want me to tell the truth? Keinginan mendasar sebenarnya sih pengen banget ke UK! Kenapa? Sederhana kok, soalnya suka banget sama logat/aksen mereka (I know it’s not that cool to be a reason). Tapi ya, takdir bilangnya saat ini diminta untuk menjajaki Malaysia dulu lah. Why not? My life ain’t easy at all, but I take it easy for that.

Sama kayak keputusan-keputusan yang selalu aku ambil di hidupku. Belajar dari film The Sound of Music, aku selalu percaya sama makna “Follow your heart, as it is always right.” Kalau aku nonton ulang filmnya, aku selalu tergerak dengan realita bahwa tiap orang pasti punya mimpinya masing-masing, something they wish to achieve or become. Namun, kenyataan lainnya mengatakan bahwa ga sedikit dari orang-orang yang punya mimpi atau keinginan akan sesuatu, terus mereka ga bisa mewujudkan hal-hal tersebut. Well, for me.. As a young-adult—on the brick of the real world, I’m now at a definitive crossroad in my life. Jadi sebenarnya, aku atau orang-orang lain sekalipun bisa selalu bebas memilih the path preconceived for us, atau ya ciptain jalan kita sendiri. Kalau mau kayak Maria di film the Sound of Music (tonton filmnya deh biar paham) at least half as amazing as her, I’d suggest the latter!

So, back to my decision why Malaysia? Karena opportunity saat ini ya di situ. Bukan di UK! At least not for now *finger crossed will be soon!* Sering banget mikir kalau aku ga ambil kesempatan ini, is there any second chance for me? Up ‘till now, dari semua hal yang terjadi di hidupku, selalu satu hal yang aku yakini: ga ada yang akan sia-sia di hidup! Semua pasti ada maksud, tujuan, manfaat bahkan pelajaran. Kalaupun efeknya ga bisa dirasain sekarang, mungkin nanti.

So I will sum up all of this, kenapa kerja di Malaysia?

  • Mau mewujudkan bucket list
  • Took the opportunity
  • To challenge myself —keluar dari zona nyaman

Cukup terjawab? Ya… Mau puas apa ga, I don’t give a sh*t for that!

Thanks for keep reading this ‘till the end.

Cheers! 🙂

IMG_E1397

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s