Riuh Raya saat Pandemi

Ada kesabaran yang sedang diuji…

Sebulan berlalu setelah perayaan yang seharusnya bisa dirangkul hangat antar keluarga muslim setiap tahunnya usai Ramadhan. Bukan hanya sekedar alfanya selebrasi di tahun ini, namun campur aduknya rasa pada “hari penuh kemenangan” di tengah pandemi yang terjadi.

Memang, Idul Fitri harusnya jauh lebih sakral dari sekedar acara kumpul-kumpul keluarga. Ada makna yang lekat dalam “perjuangan” satu bulan sebelumnya. Namun sebagai salah satu orang yang tumbuh di tengah warisan adat dan budaya yang lekat dengan kebersamaan antar keluarga, agaknya lebaran menjadi sedikit kosong tahun ini.

Hal ini tentu menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu khususnya untuk orang-orang yang harus berjauhan dengan keluarganya. Moment yang dipilih satu kali dari sekian hari sibuk lainnya dalam mengadu nasib di tempat yang berbeda. Jadi, wajarlah sudah jika moment itu hilang, ada rasa yang tergores jauh di relung hati.

Namun siapa yang mampu persalahkan keadaan? Pandemi menuntut semua orang bersabar, tanpa terkecuali bagi yang ingin mendekat dengan keluarga yang jauh dengan harus ikhlas melepas “mudik”. Kumandang takbir yang kudengar tahun ini hanyalah dari pengeras suara Masjid dekat apartemenku tanpa bisa menuju ke sana untuk sholat ‘Eid karena masih dilarangnya orang untuk beramai-ramai sholat di Masjid.

Makan-makan lebaran sama teman-teman Indonesia yang 1 apartment beda unit

Lebaran tahun ini memang sangat berbeda buatku, tapi juga jadi suatu pengalaman yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku dan teman-teman Indonesiaku (5 orang) memutuskan untuk masak-masak dan makan bersama. Mungkin bukanlah makanan masakan keluarga yang biasa ditemukan di meja makan pada lebaran kali ini, namun ada proses yang sampai kapanpun akan selalu kami kenang (kapan lagi masak ketupat sayur, rendang, kue lebaran, dll sendiri?)

Seminggu setelah Hari Raya, ketika akhirnya Malaysia sudah melakukan pelonggaran untuk berpergian keluar rumah (dengan persayaratan-persayaratan yang berlaku), aku dan teman-teman kantor merayakan halalbihalal bersama setelah 3 bulan-an tidak bertemu sama sekali.

Indonesia banget ga sih dengan Nasi Tumpeng-nya?

Oh ada lagi, technology rules the world! Ya kemajuan zaman menunjukan kalau apapun bisa diwujudkan dengan bantuan teknologi. Contohnya ya jadi muncul istilah “silaturahmi online” atau “virtual halalbihalal”, dsb. Meskipun buatku, tetap tidak bisa mengalahkan rasanya bertemu langsung, ya… Tapi apalah daya kita di tengah situasi ini?

Untuk pertama kalinya beberapa anggota keluarga besar (dari tua maupun muda) jadi “melek teknologi” kan 🙂

Pada akhirnya, ada satu hal yang perlu ditanamkan dari semua ini: Bersyukur! The world ain’t all sunshine and rainbows! Akan ada hari di mana kita bisa kembali dipertemukan dengan orang-orang yang ingin kita temui dalam kondisi yang lebih baik dan sehat tentunya. Sabar 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s