Normal yang Baru

Badai pasti berlalu…

Pandemi global menjadi tamparan keras bagi segala lapisan masyarakat khususnya tentang betapa pentingnya kesehatan. Berasal dari keterpaksaan karena keadaan, membuat manusia mau tidak mau beradaptasi dan harus menjalani hal di luar kebiasaan karena tidak punya pilihan lain. Situasi yang sudah hitungan bulanan ini–setidaknya sejak awal kemunculannya di Desember 2019, melahirkan normal yang baru di tatanan hidup manusia.

Semenjak WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global, salah satu upaya yang dianjurkan ialah untuk melakukan karantina di rumah masing-masing. Hal ini diharapkan untuk memutus rantai penyebaran virus yang sampai saat ini (setidaknya sampai tulisan ini dipublikasikan) belum ditemukan vaksinnya.

Karantina di tempat masing-masing ini memunculkan kegiatan baru yang melibatkan perkembangan teknologi di era modern ini. Sebut saja penghentian belajar-mengajar secara fisik dan mengharuskan para pelajar dan pengajar menggunakan media daring untuk prosesnya. Lalu untuk pekerja pun diminta untuk mengganti aktivitas tatap muka langsung dengan tidak langsung atau secara virtual yang kemudian disebut dengan istilah “Work From Home” (WFH). Bahkan karena dihentikannya sementara waktu berbagai aktivitas keagamaan, budaya, sosial, hingga sekedar berkumpul bersama pun membuat khalayak menjadikan teknologi telekonferensi sebagai sebuah solusi. 

Realitanya tidak semua lapisan masyarakat bisa berdiam diri di rumah masing-masing. Kenapa? Banyak faktornya. Kita tidak bisa semudah itu menjustifikasi orang yang masih berkeliaran di luar. Bisa saja mereka adalah bagian dari pejuang medis/ polisi/ tentara/ orang yang perlu ke supermarket/ orang yang perlu ke klinik/ bahkan pekerja yang mau tidak mau harus tetap bekerja karena industri mereka termasuk dari industri esensial yang diperkenankan tetap buka. Setidaknya, bagi yang tidak termasuk dalam pengecualian orang-orang tersebut, apa salahnya berdiam diri di kediaman masing-masing?

Sabar, badai pasti berlalu… Kita semua saling berjuang dengan cara masing-masing.

Buat aku pribadi, semenjak Malaysia memberlakukan lockdown, dan aku harus menjalani WFH, waktuku benar-benar kuhabiskan di tempat tinggal saja, kecuali aku harus keluar untuk membeli groceries (mau pesan online antrian tunggunya bisa sampai seminggu lebih).

Banyak sekali sendi-sendi kehidupan yang berubah. Dalam pekerjaan misalnya, semua jadi dilakukan secara virtual dari rumah saja untukku. Ada orang lain di luar sana yang tidak bisa bekerja dari rumah, akibatnya entah mereka harus tetap keluar rumah sambil merapal doa agar tak tertular atau menulari, serta bahkan ada yang harus kehilangan pekerjaan karena tempatnya bekerja tidak mampu bertahan. Atau bahkan dalam kebiasaan harian khususnya untuk orang-orang ekstrovert dan mungkin yang memiliki gangguan kecemasan akan sangat menderita jika harus di rumah sepanjang hari.

Mau tidak mau kita sebagai manusia dituntut untuk mengubah cara kita hidup, baik itu dalam belajar, bekerja, beribadah, hingga mengubah cara pandang kita. “The new normal” yang paling akan terlihat ialah orang-orang akan lebih aware dengan kebersihan diri sendiri dari menggunakan masker, mencuci tangan, menggunakan sanitizer, memilih makanan sehat untuk dikonsumsi, hingga menjaga jarak.

easter-2020-5034041_640

Sebagai manusia yang diberikan anugerah berupa akal untuk terus berpikir dan berusaha, tentu selalu diberikan pilihan dalam hidup. Apakah kita mau terus egois, tidak mau berubah dan akhirnya merugikan tidak hanya diri sendiri bahkan orang lain? Atau kita memilih untuk beradaptasi, belajar, menaati yang ahli serta mengikuti arahan yang berwenang, sehingga kita selamat dan memenangkan perang melawan virus ini bersama?

Kita punya kendali atas pilihan dalam hidup, maka bijaklah dalam memilih.

Saking banyaknya pelajaran dan hikmah yang dapat diambil, aku pikir di tengah banyaknya waktu yang dimiliki selama karantina ini ternyata jauh lebih berharga daripada kalau semua berjalan sesuai rencana. Bahkan ada orang bijak yang bilang kalau dalam hidup kita perlu menyingkir sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk mempersiapkan diri. Seperti ketapel yang ditarik mundur terlebih dahulu sebelum akhirnya dapat melontar jauh, saat ini manusia lagi diuji kesabarannya untuk sesuatu yang semoga akan lebih baik lagi kedepannya.

Situasi ini terjadi bertepatan juga dengan bulan suci Ramadhan di mana puasa tahun ini terasa tidak seperti biasanya (tanpa bazaar ramadhan, tidak bisa buka puasa di masjid sampai tarawih di masjid, dsb). Mungkin terdengar klise, namun untukku pribadi, aku jadi lebih memiliki banyak waktu untuk beribadah dan mendekatkan diri dengan sang pencipta dan ini mahal harganya. Di samping itu, banyak hal yang bisa kulakukan selama karantina ini mulai dari belajar memasak berbagai macam resep masakan, mencoba menggambar dan melukis, lebih giat berolahraga di rumah, menyelesaikan buku-buku bacaan, menamatkan serial tv kesayangan, hingga memiliki waktu untuk menulis tulisan ini hahhaha.

Kita semua sama-sama berjuang dalam menjaga kewarasan kita dengan melakukan berbagai macam cara untuk membuat diri kita menjadi lebih berkembang. COVID-19 mengajarkan kita kalau banyak hal di hidup ini yang tanpa kita sadari bisa kita lakukan dan semoga pun ketika pandemi ini berakhir kita masih terus memperkaya diri kita ya!

Lalu selama karantina ini, pencapaian apa saja yang sudah kamu peroleh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s